Berita Terkini
Trending Tags

Belajar Meracik Warisan Nusantara, Siswa SMPN 13 Kota Madiun Antusias Kenal Jamu di D’Jamoe

  • account_circle Kriswanto
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 211
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Siswa SMPN 13 Kota Madiun praktik meracik jamu tradisional, (7/5/2026), Foto : Kris-Sinergia

Sinergia | Kota Madiun – D’Jamoe menjadi ruang belajar berbeda bagi puluhan siswa SMPN 13 Kota Madiun pada Kamis (7/5/2026). Bukan sekadar duduk di kelas, sebanyak 87 siswa bersama guru pendamping mengikuti kegiatan outdoor learning yang mengajak mereka mengenal lebih dekat budaya jamu tradisional Indonesia.

Suasana hangat langsung terasa sejak para siswa memasuki area produksi D’Jamoe. Mereka diajak memahami filosofi jamu gendong yang sudah dikenal sejak jaman dulu. Meski sekarang sudah jarang ada, namun eksistensi jamu kini terus dipertahankan. Para siswa pun juga dikenalkan dengan beragam rempah-rempah yang banyak digunakan untuk bahan baku jamu.

Owner D’Jamoe, Oktavia Purnawati Wijayaningrum atau akrab disapa Vivie, mengakui mengenalkan jamu kepada generasi Z bukan perkara mudah. Karena itu, pihaknya memilih pendekatan kreatif melalui permainan dan praktik langsung agar anak-anak merasa dekat dengan jamu.

“Kalau langsung disuruh minum jelas enggak menarik buat mereka. Jadi kami ajak lewat games, praktik bikin jamu, supaya mereka suka dulu. Kalau sudah suka, nanti mereka mau minum sendiri,” jelasnya.

Untuk itu, 6 perwakilan siswa yang dibagi menjadi 3 kelompok pun praktik langsung membuat jamu setelah diberikan demo pembuatan oleh peracik dari D’Jamoe. Mereka pun sangat antusias karena menjadi pengalaman pertama kali meracik jamu tradisional.

Seperti yang dirasakan oleh Airi Bunga Glaria (15), siswi kelas 8, pengalaman tersebut menjadi momen pertama yang berkesan. Ia mengaku awalnya sempat ragu saat harus membuat jamu sendiri.

“Jujur karena ini pertama kali agak takut ya, takut rasanya enggak enak dan enggak jadi jamu. Tapi ternyata seru banget karena kita jadi tahu budaya jamu gendong, filosofi, sampai cara membuatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Gelak tawa pecah ketika sebagian hasil racikan terasa terlalu manis atau terlalu pedas. Namun dari situlah proses belajar berlangsung dengan cara yang menyenangkan.

Salah satu peserta yang berhasil mencuri perhatian adalah Athena Dyozha Mahendra (14) dari kelas 8E. Racikan jamunya berhasil menjadi yang terbaik dalam sesi games meracik jamu.

Athena mengaku dirinya memperhatikan setiap tahapan demo yang diberikan instruktur sebelum mulai mencampurkan bahan-bahan.

“Saya catat takarannya dan tahapan memasukkan bahannya. Awalnya memang kemanisan, akhirnya saya tambah jahenya supaya rasanya pas,” katanya.

Menariknya, kedua siswi itu mengaku jarang mengonsumsi jamu dalam kehidupan sehari-hari. Menurut mereka, penjual jamu gendong kini semakin sulit ditemui dibanding saat masih kecil dulu. Namun setelah mengikuti kegiatan tersebut, keduanya justru mulai tertarik untuk kembali rutin minum jamu.

Image Not Found
Outdoor learning kenalkan jamu Nusantara kepada generasi muda, (7/5/2026), Foto : Kris-Sinergia

“Kayaknya nanti jadi sering minum jamu, karena ternyata saya suka,” ucap Airi.

Sementara itu, lanjut Vivie, jamu tradisional sebenarnya mampu bersaing dengan minuman modern yang kini digandrungi anak muda. Kuncinya terletak pada inovasi rasa tanpa menghilangkan manfaat kesehatan.

Ia mencontohkan temulawak yang identik dengan rasa pahit kini dimodifikasi dengan perpaduan rempah dan gula kelapa agar lebih ramah di lidah remaja.

“Sekarang membuat jamu itu harus enak dulu. Kalau rasanya enak, anak-anak pasti mau mencoba,” katanya.

Di balik kesederhanaannya, proses produksi di D’Jamoe masih mempertahankan cara tradisional. Mulai dari pencucian bahan hingga proses perasan masih dilakukan manual menggunakan tangan. Modernisasi hanya hadir lewat penggunaan blender untuk membantu produksi dalam jumlah besar.

“Jadi ya harapan kami nanti setelah ini mereka ya paling enggak entah seminggu sekali mereka rajin minum jamu, terutama kan yang cewek-cewek nih ya. Karena jamu ini sangat bagus untuk kesehatan,” terangnya.

Untuk menarik minat anak muda, D’Jamoe juga membuka program “Jamu Class” yang sudah berjalan selama dua tahun terakhir. Melalui kelas tersebut, peserta diajak belajar membuat jamu secara langsung dengan metode sederhana dan menyenangkan.

“Itu sudah kita lakukan dua tahun terakhir ini. Siapa yang pengen belajar secara grup, tapi kami masih menerima secara grup,” tegas Vivie.

Sementara itu, Kepala SMPN 13 Kota Madiun, Anik Suyanti, menilai kegiatan outdoor learning tersebut menjadi sarana penting mengenalkan warisan budaya sekaligus menanamkan semangat kewirausahaan kepada siswa.

“Dengan melihat antusiasme anak-anak ini, saya yakin nanti akan tetap terjaga warisan budaya ini,” ujarnya.

Menurutnya, jamu bukan hanya soal minuman tradisional, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang memiliki nilai kesehatan dan ekonomi.

“Anak-anak belajar banyak hal di sini. Ada ilmu IPA tentang tanaman dan manfaat kesehatan, ada juga IPS tentang produksi, pemasaran, sampai nilai ekonominya,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman tersebut mampu menginspirasi siswa untuk terus berinovasi dan menjadi generasi yang mandiri.

“Harapan saya kepada siswa yang melakukan ODL hari ini, mereka terus berinovasi dengan inspirasi yang didapat dari sini sehingga dia menjadi pembelajar sepanjang hayat,” katanya.

Di tengah derasnya tren minuman modern, kegiatan sederhana di sudut Kota Madiun itu menjadi pengingat bahwa warisan budaya tak selalu harus dikenalkan lewat ceramah panjang. Kadang, cukup dengan segelas jamu racikan sendiri, generasi muda bisa mulai jatuh cinta kembali pada kekayaan tradisi Nusantara. (Krs)

Bagikan
  • Penulis: Kriswanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banyak Jalan Rusak Belum Tertangani di Madiun, Bupati Minta Maaf, DPRD Dorong Prioritas Perbaikan 

    Banyak Jalan Rusak Belum Tertangani di Madiun, Bupati Minta Maaf, DPRD Dorong Prioritas Perbaikan 

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun mengakui masih banyak ruas jalan yang belum tertangani secara maksimal akibat keterbatasan anggaran daerah. Dari total panjang jalan kabupaten yang mencapai sekitar 936 kilometer, perbaikan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Bupati Madiun, Hari Wuryanto, mengatakan pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan tetap menjadi prioritas utama pemerintah daerah […]

    Bagikan
  • Jembatan Garuda Penghubung Madiun-Ponorogo Segera Dibangun

    Jembatan Garuda Penghubung Madiun-Ponorogo Segera Dibangun

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto, meninjau lokasi pembangunan Jembatan Garuda Tahap VI di Desa Lembah, Kecamatan Delopo, Kabupaten Madiun, Rabu (3/6/2026).  Jembatan yang akan dibangun tersebut nantinya menjadi akses penghubung strategis antar kabupaten. “Jembatan ini nantinya akan menjadi salah satu akses penghubung antara Kabupaten Madiun dengan Kabupaten Ponorogo,” kata Danrem […]

    Bagikan
  • Ironi di Ponorogo! Tak Ada Jembatan, Siswa Sidoharjo Digendong Seberangi Sungai Demi Sekolah

    Ironi di Ponorogo! Tak Ada Jembatan, Siswa Sidoharjo Digendong Seberangi Sungai Demi Sekolah

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 310
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Miris. Warga Dusun Karang Sengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, terpaksa menyeberangi Sungai Bentul setiap hari demi menjalani aktivitas. Bahkan, anak-anak sekolah harus digendong orang dewasa agar bisa sampai ke sekolah dengan selamat. Sungai tersebut menjadi satu-satunya akses terdekat bagi warga. Saat debit air normal dan surut, warga masih bisa menyeberang […]

    Bagikan
  • Dispendukcapil Madiun Wujudkan Layanan Adminduk “Sarapan Pecel”, Warga Bisa Urus dari Desa

    Dispendukcapil Madiun Wujudkan Layanan Adminduk “Sarapan Pecel”, Warga Bisa Urus dari Desa

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun — Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Madiun terus berupaya mendekatkan layanan administrasi kependudukan (Adminduk) kepada masyarakat. Salah satu terobosan terbaru yang diluncurkan adalah inovasi “Sarapan Pecel” atau Sistem Administrasi Kependudukan Terdepan di Pedesaan, yang memungkinkan warga mengurus dokumen kependudukan langsung dari kantor desa. Program ini diperkenalkan beriringan dengan kegiatan Bahana […]

    Bagikan
  • Alasan Keperluan Bisnis, 4 WNA Dideportasi Imigrasi Madiun

    Alasan Keperluan Bisnis, 4 WNA Dideportasi Imigrasi Madiun

    • calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab Madiun – Sebanyak 4 Warga Negara Asing Sepanjang tahun 2024 dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Madiun. Ke empat WNA itu yakni dari 2 Warga Negara Malaysia, 1 Warga Negara Korea Selatan, dan 1 Warga Negara Ukraina Kasubsi Informasi dan Komunikasi Aditya Yusuf membeberkan modus pelanggaran penyalahgunaan izin yang dilakukan […]

    Bagikan
  • Ugin Di Kursi Sekda, Awal Pembenahan Atau Sekedar Transisi?

    Ugin Di Kursi Sekda, Awal Pembenahan Atau Sekedar Transisi?

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Penunjukan Agus Sugiarto sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo memunculkan pertanyaan publik. Apakah ini menjadi awal pembenahan birokrasi, atau sekedar langkah transisi di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih? Seperti diketahui, kursi Sekda sempat kosong setelah Agus Pramono tersandung kasus dugaan suap jabatan dan gratifikasi. Kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut […]

    Bagikan
expand_less