Bau Mebeler Senilai Rp 400 Juta Menghangat Seiring Tumpukan Sampah Yang Menyengat
- account_circle Mandor
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 111
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Bau menyengat dari tumpukan sampah di TPS Pasar Sayur Caruban, Kelurahan Krajan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, dikeluhkan warga dan pelaku usaha. Di tengah persoalan yang tak kunjung terurai, publik justru dihadapkan pada kabar pengadaan mebeler senilai Rp 400 juta di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.
Keluhan itu mencuat pada Selasa (5/5/2026). Warga menilai, penanganan sampah yang mendesak belum mendapat prioritas, sementara belanja sarana perkantoran sudah berjalan.
“Bau menyengat hampir setiap waktu, apalagi saat cuaca panas. Kami menunggu solusi, bukan kabar pembelian meja kursi,” kata Sunaryo, warga Krajan.
Kondisi serupa dirasakan pelaku usaha kuliner di sekitar lokasi. Aura Anaya menyebut bau dari timbunan sampah kerap memicu komplain pelanggan dan berdampak pada usahanya.
“Baunya sampai ke sini. Customer sering komplain. Kami sampai harus menyemprot pewangi sendiri,” ujarnya.
Ia berharap pembersihan dilakukan lebih menyeluruh agar tidak menyisakan sampah yang kembali membusuk.
“Harapannya segera dibereskan, biar baunya tidak sampai ke sini lagi.”
Pantauan di lapangan, sampah tak hanya menumpuk di area TPS, tetapi juga meluber hingga badan jalan. Kondisi ini memperparah gangguan kenyamanan warga dan aktivitas ekonomi di sekitar pasar.
Kepala DLH Kabupaten Madiun, Muhammad Zahrowi, mengakui persoalan sampah di wilayahnya berkaitan dengan kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaliabu yang sudah melampaui masa pakai dan mengalami kelebihan kapasitas (overload).
“TPA Kaliabu itu hilir, seharusnya hanya menampung sampah residu. Tapi karena volume timbulan sampah tinggi, kondisinya sudah overload,” kata Zahrowi.
Menurut dia, solusi jangka menengah ada pada optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) dan bank sampah di tingkat hulu. Namun, dari total 15 TPS 3R yang ada, kurang dari separuh yang beroperasi optimal.
“Kalau TPS 3R berjalan, volume sampah ke TPA bisa ditekan. Kuncinya di sana,” ujarnya.
Terkait pengadaan mebeler, Zahrowi menyebut anggaran tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana perkantoran DLH.
Meski begitu, warga berharap pemerintah daerah memprioritaskan penanganan sampah yang dampaknya dirasakan langsung sehari-hari. Tanpa langkah cepat, persoalan ini dinilai bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan lingkungan dan keberlangsungan usaha di sekitar pasar. (Ndor)
- Penulis: Mandor
- Editor: Diez





