
Sinergia | Ponorogo – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo mencatat jumlah kejadian bencana sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun dikonfirmasi pada Kamis (8/1/2026), menyebutkan berdasarkan hasil kaji cepat, total bencana yang tercatat mencapai 186 kasus.
“Dari jumlah itu, 100 kasus merupakan tanah longsor, 47 banjir, 29 cuaca ekstrem, tujuh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dua kekeringan, serta satu kasus lainnya,” ujar Masun.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024, jumlah tersebut turun hampir 45 persen. Penurunan paling signifikan terjadi pada kasus karhutla dan kekeringan yang anjlok hingga hampir 90 persen.
Masun menjelaskan, minimnya kasus kekeringan disebabkan kondisi cuaca yang disebut masyarakat sebagai “kering basah”. Fenomena ini dipengaruhi oleh El Nino dengan intensitas rendah yang masih disertai dampak La Nina ringan, sehingga hujan tetap turun meski dengan intensitas kecil.
“Masih tersedia sumber air bagi masyarakat, sehingga tidak sampai terjadi kekeringan ekstrem,” jelasnya.
Selain itu, berkurangnya bibit siklon tropis yang berdampak ke wilayah Jawa Timur juga menjadi faktor utama. Pada 2024 lalu, hampir seluruh kawasan Pantai Selatan sering dilaporkan muncul bibit siklon yang memicu hujan lebat disertai petir dan cuaca ekstrem.
“Pada 2025 ini, bibit siklon lebih banyak muncul di wilayah utara atau timur, dan jarang berdampak langsung ke Jawa Timur,” imbuh Masun. Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat musim hujan tahun ini cenderung normal. Meski masih terjadi cuaca ekstrem, intensitasnya relatif rendah dan tidak berlangsung lama. “Ditambah lagi, BPBD Provinsi Jawa Timur juga aktif melakukan modifikasi cuaca,” pungkasnya.(ega).