
Sinergia | Kab. Madiun – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur hingga Agustus mendatang. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah anomali atmosfer, termasuk aktivitas gelombang Madden Julian Oscillation (MJO), Rossby ekuator, gelombang Kelvin, hingga sistem konvergensi angin di kawasan tersebut.
“Fenomena ini masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan,” kata Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun BMKG Nganjuk, Setiyaris, di Madiun, Selasa (10/06/2025).
Pergantian cuaca yang berlangsung cepat antara panas dan hujan turut memicu potensi pembentukan awan konvektif yang ekstrem.
“Dalam kondisi seperti ini, awan-awan jenis Cumulus bisa berkembang menjadi Cumulonimbus, yang berpotensi menyebabkan petir, angin kencang, hingga puting beliung,” ujarnya.
Menurut Setiyaris, angin puting beliung terbentuk akibat perbedaan tekanan yang signifikan antara permukaan bumi dan awan di atasnya. Fenomena ini biasanya ditandai oleh dua tipe angin, yakni angin kencang dengan arah lurus dan angin puting beliung yang bergerak memutar.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa wilayah dataran rendah cenderung lebih rentan terhadap kejadian angin ekstrem tersebut. “Daerah yang datar tanpa banyak penghalang seperti pepohonan atau lereng berpotensi lebih besar mengalami pembentukan angin kencang maupun puting beliung,” tuturnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa tidak menutup kemungkinan angin ekstrem juga dapat memengaruhi wilayah dataran tinggi jika proses pembentukan angin terjadi di bawah lalu bergerak ke atas, sehingga kawasan permukiman di ketinggian pun bisa terdampak.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Madiun dan sekitarnya, untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama masa pancaroba dan kemarau basah yang diperkirakan berlangsung hingga Juli.
Tova Pradana – Sinergia