Dinkes Madiun Temukan 16 Suspek Campak, Sampel Darah Dikirim ke Surabaya
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 25
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mencatat adanya 16 kasus suspek Campak pada anak sejak Januari hingga pertengahan Maret 2026. Meski begitu, hingga kini belum ditemukan kasus campak yang terkonfirmasi positif di wilayah Kabupaten Madiun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujiyanto, mengatakan laporan suspek campak mulai masuk sejak awal tahun ini dari sejumlah fasilitas kesehatan.
“Per Januari 2026 sampai saat ini untuk kasus yang positif atau konfirmasi alhamdulillah belum ada ditemukan di Kabupaten Madiun. Namun untuk kasus suspek sudah ada laporan yang masuk, total ada 16 kasus,” kata Dodik, Senin (16/3/2026).
Dari total 16 suspek tersebut, kasus terbanyak ditemukan di dua wilayah, yakni Kecamatan Saradan dan Kecamatan Geger yang masing-masing tercatat tiga kasus. Sementara sisanya tersebar di 13 kecamatan lain di Kabupaten Madiun.
Menurut Dodik, mayoritas laporan kasus dialami anak-anak, terutama balita. Gejala yang dilaporkan di antaranya demam tinggi, muncul ruam merah di kulit, mata merah, hidung meler (coryza), hingga mual dan muntah.
Untuk memastikan diagnosis, Dinas Kesehatan telah melakukan pengambilan sampel darah dari kasus suspek tersebut. Sampel kemudian dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Dari kasus suspek ini sudah kita lakukan pengambilan sampel darah dan dikirimkan ke BBLK Surabaya untuk memastikan apakah benar campak atau bukan. Sampai saat ini hasilnya masih kita tunggu,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan di wilayahnya.
Surat tersebut dikirimkan kepada 26 puskesmas serta tiga rumah sakit, yakni RSUD Caruban, RSUD Dolopo, dan RS Paru Dungus.
Fasilitas kesehatan diminta segera melaporkan jika menemukan pasien dengan gejala serupa campak agar dapat ditangani dan ditelusuri lebih cepat.
Selain itu, Dinkes juga menggencarkan kembali program imunisasi catch-up atau sweeping imunisasi bagi anak-anak yang status imunisasinya belum lengkap.

Imunisasi serentak jelang Lebaran
Program imunisasi tersebut akan dilaksanakan secara serentak mulai 30 Maret hingga 12 April 2026 sesuai arahan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dodik menjelaskan, imunisasi campak diberikan dalam beberapa tahap, yakni dosis pertama pada usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 18 bulan, serta dosis ketiga atau booster pada usia 5 hingga 7 tahun.
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit yang menyebar melalui droplet tersebut, terutama menjelang momen Lebaran yang identik dengan kegiatan silaturahmi.
“Kami mengimbau masyarakat menjaga kebersihan, menjaga imunitas tubuh, menggunakan hand sanitizer, dan kalau tidak perlu jangan terlalu sering menyentuh bayi atau balita,” kata Dodik.
Ia juga menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif, terutama bagi bayi usia 6 hingga 12 bulan yang termasuk kelompok paling rentan terhadap infeksi campak. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez







