
Sinergia | Magetan – Suasana libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 langsung terasa begitu memasuki kawasan pintu masuk Wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan. Deretan kendaraan mengular hingga beberapa ratus meter dari loket tiket. Meski padat, suasana tetap tertib.
Udara pagi yang sejuk menyapa para wisatawan dari berbagai daerah yang datang bergelombang sejak matahari baru naik. Setelah melewati pintu tiketing, sebagian wisatawan langsung berhenti sejenak untuk menikmati panorama Gunung Lawu yang mengitari telaga sebelum melanjutkan perjalanan ke area parkir. Ramainya pengunjung ini menjadi tanda bahwa Sarangan masih menjadi magnet utama pariwisata Magetan.
Dari tepian telaga, pemandangan keramaian semakin terasa. Wisatawan berpencar di berbagai sudut. Ada yang menunggang kuda, mencoba perahu, duduk santai di tepian telaga, hingga yang sibuk berpose untuk berfoto. Cuaca cerah membuat setiap sudut Sarangan tampak fotogenik.
Arif Saiful Fajri, wisatawan asal Pacitan, mengaku sengaja memanfaatkan jasa fotografer lokal untuk mengabadikan liburannya bersama keluarga. Baginya, hasil foto cetak masih memiliki nilai tersendiri.
“Eh ini di Sarangan Mas, di Telaga Sarangan. Alhamdulillah cuacanya lumayan cerah. Di sini bisa menggunakan jasa foto yang mantap untuk berfoto bersama keluarga dan saudara,” tuturnya, Minggu (28/12/2025) sambil menunjukkan hasil cetakan.
Baginya, tarif yang dipatok para fotografer cukup ramah di kantong. “Untuk warga biasa, yang enggak begitu kaya, ini tergolong murah, Mas. Hasil fotonya juga bagus, jernih. Dan bisa langsung dicetak di tempat,” tambahnya.
Meningkatnya jumlah wisatawan membuat para penyedia jasa foto di Sarangan panen rezeki. Edi, salah satu fotografer yang sudah bekerja di area wisata ini selama sepuluh tahun, terlihat sibuk melayani wisatawan yang antre ingin dicetak fotonya. “Kalau di sini ya fotografer amatiran Sarangan, Mas,” katanya sambil mencetak hasil tangkapan lensa kameranya.
Ia mematok tarif Rp15.000 per cetak dengan ukuran 4R dan Rp5.000 untuk transfer file ke ponsel.
Menurut Edi, momen libur Natal dan tahun baru selalu membawa peningkatan pendapatan dibanding hari-hari biasa. “Ya lumayan ada peningkatan, Mas. Biasanya sehari cuma dapat dua puluh atau dua puluh lima cetak. Kalau liburan begini bisa lebih, meski tetap enggak tentu,” ujarnya.
Meski teknologi kamera ponsel semakin canggih, Edi mengaku tetap memilih bertahan di profesinya. “Namanya cari rezeki, Mas. Kalau dikasih Alhamdulillah, kalau enggak ya tetap usaha,” ungkapnya.
Seiring bertambahnya wisatawan yang berdatangan, kawasan telaga terasa makin hidup. Alunan musik dari pedagang kaki lima, gemercik air telaga, dan suara kuda yang berderap melengkapi suasana.
Libur panjang ini bukan hanya menjadi kesempatan bagi keluarga untuk melepas penat, tetapi juga menjadi sumber rezeki bagi para pelaku usaha lokal—mulai dari pedagang, penyewa kuda, speedboat, hingga para fotografer yang setia mengabadikan setiap momen. Di antara padatnya antrean di pintu masuk, hiruk-pikuk wisatawan, dan beningnya air telaga, Sarangan kembali membuktikan diri sebagai destinasi yang selalu dirindukan.(Nan/Krs).