Berita Terkini
Trending Tags

Musim Kemarau, DPUPR Magetan Andalkan 125 Sumur untuk Jaga Pasokan Air 27 Ribu Hektare Sawah

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
  • visibility 159
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Pasokan air dijaga untuk 27 ribu hektare lahan sawah. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan mengoptimalkan sumber daya air untuk menjaga ketersediaan pasokan irigasi bagi lahan pertanian selama musim kemarau. Sebanyak 125 sumur yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten disiapkan sebagai salah satu sumber suplai air bagi lahan sawah yang tersebar di wilayah Magetan.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Magetan, Muhtar Wakid, mengatakan sumber daya air yang dikelola pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan irigasi sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah. Selain 125 sumur kewenangan kabupaten, terdapat 110 sumur yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Menurut Muhtar, infrastruktur sumber daya air yang dikelola PUPR juga mencakup sekitar 30 embung, serta dua sumber tampungan air utama, yakni Telaga Sarangan dan Bendung Gonggang. Telaga Sarangan memiliki daya tampung sekitar 3 juta meter kubik, sedangkan Bendung Gonggang sekitar 2 juta meter kubik.

“Kita punya sekitar 30 embung yang mempunyai daya tampung air. Kemudian ada Telaga Sarangan sekitar tiga juta meter kubik dan Bendung Gonggang sekitar dua juta meter kubik,” kata Muhtar.

Seluruh infrastruktur tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan irigasi bagi sekitar 27 ribu hektare luas baku sawah di Kabupaten Magetan.

Muhtar menjelaskan, memasuki musim kemarau, volume air pada tampungan seperti telaga dan bendung secara alami terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat keberadaan sumur menjadi penting karena dapat memberikan suplai tambahan ketika pasokan dari sumber air permukaan mulai berkurang.

“Kalau kemarau, stok yang ada di telaga pasti surut terus, yang di bendung juga semakin surut. Nah, sumur-sumur inilah yang bisa memberi suplai kepada para petani,” ujarnya.

Pemanfaatan sumur sebagai sumber air alternatif dinilai membantu petani mempertahankan aktivitas budidaya di tengah keterbatasan air. Bahkan, di sejumlah wilayah, petani masih dapat menanam padi meski memasuki periode kemarau.

Namun, kondisi ketersediaan air tidak sama di setiap wilayah. Daerah yang memiliki pasokan air terbatas diarahkan untuk menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi sumber daya air.

“Di daerah-daerah tertentu ada yang kemarau tetapi masih menanam padi. Ada juga daerah yang airnya terbatas, tanamannya palawija dan sebagainya,” jelas Muhtar.

Muhtar mengatakan pihaknya bersama jaringan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPA) dan sektor pertanian terus memberikan imbauan agar pada musim tanam ketiga atau musim kemarau kedua, petani tidak memaksakan tanaman yang membutuhkan banyak air, terutama padi.

“Pengendaliannya bukan di air saja, tetapi di jenis tanaman. Kami menghimbau melalui HIPA dan teman-teman pertanian agar pada musim kemarau tidak menanam tanaman yang banyak menggunakan air seperti padi, tetapi lebih ke palawija untuk menghindari gagal panen,” katanya.

Untuk kondisi Telaga Sarangan, Muhtar mengatakan pengelolaannya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat sehingga pihaknya belum mendapatkan informasi terbaru mengenai besaran penurunan muka air secara rinci.

Namun, berdasarkan informasi teknis, muka air Telaga Sarangan disebut mengalami penurunan sekitar dua meter dari elevasi sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, tampungan air yang tersedia masih diperkirakan berada pada kisaran 2,28 juta meter kubik dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air.

Penggunaan air dari Telaga Sarangan juga harus memperhitungkan berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan pertanian dan industri. Salah satunya adalah kebutuhan air untuk PG Rejosari.

Muhtar memastikan, dengan pengaturan yang dilakukan, ketersediaan air saat ini masih relatif aman untuk memenuhi kebutuhan pada musim kemarau.

“Untuk mencukupi kebutuhan air di musim kemarau saat ini masih aman,” tegasnya.

Selain Telaga Sarangan, kondisi Bendung Gonggang juga menjadi perhatian karena mengalami penurunan volume seiring berlangsungnya musim kemarau. Pengelolaan air dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan petani dan kondisi tanaman.

Sementara itu, kondisi sejumlah embung yang berukuran lebih kecil relatif bervariasi. Beberapa embung masih memiliki cadangan air cukup karena penggunaannya belum terlalu besar.

Muhtar mencontohkan Embung Campursari yang hingga kini masih memiliki ketersediaan air cukup. Posisi embung yang berada di wilayah relatif tinggi membuat distribusi air dari saluran masih mampu memenuhi kebutuhan petani di bawahnya.

“Campursari itu posisinya tinggi sekali. Air dari saluran masih cukup untuk petani, sehingga belum perlu membuka embung yang ada,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah embung mulai mengalami pengurangan volume dan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi jaringan irigasi di bawahnya.

Untuk memperkuat sistem irigasi dan ketahanan pangan, pemerintah pusat juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp38 miliar untuk penanganan infrastruktur di wilayah Daerah Irigasi (DI) Jejeruk pada tahun ini.

Selain itu, terdapat program melalui Instruksi Presiden (Inpres) dengan anggaran sekitar Rp13,9 miliar untuk pembangunan dua sumur berikut jaringan perpipaan dan sejumlah jaringan irigasi.

Dua lokasi sumur tersebut berada di Tinap dan Mantren. Infrastruktur ini diharapkan dapat memperkuat pasokan air pertanian, terutama ketika sumber air permukaan mengalami penurunan akibat kemarau.

“Sumurnya yang pertama ada di Tinap, yang kedua di Mantren. Ini untuk membantu ketahanan pangan supaya kebutuhan air tercukupi,” kata Muhtar.

Dengan dukungan jaringan irigasi, embung, bendung, telaga, serta sumur, PUPR Magetan berupaya menjaga distribusi air tetap berjalan selama musim kemarau. Di saat yang sama, pengaturan pola tanam menjadi strategi penting agar ketersediaan air yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal dan risiko gagal panen dapat ditekan. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bentrok Dua Kelompok Silat di Madiun, 11 Remaja Diamankan Polisi

    Bentrok Dua Kelompok Silat di Madiun, 11 Remaja Diamankan Polisi

    • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun — Bentrokan antar dua kelompok perguruan pencak silat pecah di Dusun Bandungan, Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu malam (9/7/2025). Tidak ada korban jiwa, namun sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Polisi telah mengamankan 11 remaja yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Kericuhan terjadi sekitar pukul 22.00 WIB, ketika […]

    Bagikan
  • Viral CCTV Tabrakan KA Logawa dan Truk di Perlintasan Bagor–Saradan, Diduga Palang Pintu Perlintasan Belum Tertutup Sempurna

    Viral CCTV Tabrakan KA Logawa dan Truk di Perlintasan Bagor–Saradan, Diduga Palang Pintu Perlintasan Belum Tertutup Sempurna

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 511
    • 0Komentar

    Sinergia | Nganjuk – Rekaman CCTV detik-detik tabrakan antara KA Logawa dengan sebuah truk di perlintasan sebidang resmi terjaga (JPL 103) KM 126+428 petak jalan Bagor–Saradan, Kabupaten Nganjuk, Kamis (9/7/2026), viral di media sosial. Video tersebut memicu perhatian publik karena memperlihatkan palang pintu perlintasan belum tertutup sempurna ketika sejumlah kendaraan masih melintas. Beberapa saat kemudian, […]

    Bagikan
  • Wali Kota Madiun Ajak Stakeholder Tangani Persoalan Sampah

    Wali Kota Madiun Ajak Stakeholder Tangani Persoalan Sampah

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota Madiun mengadakan kegiatan “Coffee Morning” bersama Wali Kota Maidi, jajaran Forkopimda, DPRD, serta perwakilan dari rumah sakit, perbankan, media, dan pelaku usaha. Acara ini berlangsung pada Selasa (05/08/2025) di Kayana Ballroom, Votel Kartika Madiun. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Maidi menyinggung sejumlah isu krusial yang tengah dihadapi kota, […]

    Bagikan
  • Motor Pemudik Terbakar di Jalur Ngawi–Solo, Ayah dan Dua Anak Selamat

    Motor Pemudik Terbakar di Jalur Ngawi–Solo, Ayah dan Dua Anak Selamat

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Sebuah sepeda motor yang dikendarai pemudik bersama dua anaknya terbakar di jalur utama Kabupaten Ngawi pada Selasa (17/3/2026) siang. Peristiwa terjadi di kawasan Desa Tambakselo, tepatnya di ruas jalan Ngawi–Solo, sekitar pukul 12.30 WIB. Dalam video yang direkam petugas, api tampak membakar seluruh bodi sepeda motor. Petugas kepolisian bersama BPBD berusaha […]

    Bagikan
  • Satintelkam Polres Madiun Kota Layani 1.965 Pemohon SKCK

    Satintelkam Polres Madiun Kota Layani 1.965 Pemohon SKCK

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dalam kurun waktu 3 hari kerja, pemohon Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) membludak di Satintelkam Polres Madiun Kota. Hingga hari keempat pada Selasa (16/09/2025) antrian masih nampak di unit pelayanan SKCK di Jalan Sumatera Kota Madiun ini. Peningkatan pemohon SKCK ini imbas pengangkatan tenaga honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian […]

    Bagikan
  • Warga Ngrayun Seberangi Sungai Naik Gondola, Pemkab Usulkan Pembangunan Jembatan Permanen

    Warga Ngrayun Seberangi Sungai Naik Gondola, Pemkab Usulkan Pembangunan Jembatan Permanen

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Aksi warga Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo yang menyeberangi sungai menggunakan gondola sempat viral di media sosial. Aktivitas tersebut dilakukan setiap hari, termasuk oleh anak-anak sekolah, meski dinilai berisiko dan membahayakan keselamatan. Kondisi ini terjadi setelah jembatan penghubung menuju wilayah Kabupaten Trenggalek putus. Warga terpaksa menggunakan gondola sebagai akses tercepat […]

    Bagikan
expand_less