Berita Terkini
Trending Tags

Musim Kemarau, DPUPR Magetan Andalkan 125 Sumur untuk Jaga Pasokan Air 27 Ribu Hektare Sawah

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
  • visibility 79
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Pasokan air dijaga untuk 27 ribu hektare lahan sawah. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan mengoptimalkan sumber daya air untuk menjaga ketersediaan pasokan irigasi bagi lahan pertanian selama musim kemarau. Sebanyak 125 sumur yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten disiapkan sebagai salah satu sumber suplai air bagi lahan sawah yang tersebar di wilayah Magetan.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Magetan, Muhtar Wakid, mengatakan sumber daya air yang dikelola pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan irigasi sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah. Selain 125 sumur kewenangan kabupaten, terdapat 110 sumur yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Menurut Muhtar, infrastruktur sumber daya air yang dikelola PUPR juga mencakup sekitar 30 embung, serta dua sumber tampungan air utama, yakni Telaga Sarangan dan Bendung Gonggang. Telaga Sarangan memiliki daya tampung sekitar 3 juta meter kubik, sedangkan Bendung Gonggang sekitar 2 juta meter kubik.

“Kita punya sekitar 30 embung yang mempunyai daya tampung air. Kemudian ada Telaga Sarangan sekitar tiga juta meter kubik dan Bendung Gonggang sekitar dua juta meter kubik,” kata Muhtar.

Seluruh infrastruktur tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan irigasi bagi sekitar 27 ribu hektare luas baku sawah di Kabupaten Magetan.

Muhtar menjelaskan, memasuki musim kemarau, volume air pada tampungan seperti telaga dan bendung secara alami terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat keberadaan sumur menjadi penting karena dapat memberikan suplai tambahan ketika pasokan dari sumber air permukaan mulai berkurang.

“Kalau kemarau, stok yang ada di telaga pasti surut terus, yang di bendung juga semakin surut. Nah, sumur-sumur inilah yang bisa memberi suplai kepada para petani,” ujarnya.

Pemanfaatan sumur sebagai sumber air alternatif dinilai membantu petani mempertahankan aktivitas budidaya di tengah keterbatasan air. Bahkan, di sejumlah wilayah, petani masih dapat menanam padi meski memasuki periode kemarau.

Namun, kondisi ketersediaan air tidak sama di setiap wilayah. Daerah yang memiliki pasokan air terbatas diarahkan untuk menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi sumber daya air.

“Di daerah-daerah tertentu ada yang kemarau tetapi masih menanam padi. Ada juga daerah yang airnya terbatas, tanamannya palawija dan sebagainya,” jelas Muhtar.

Muhtar mengatakan pihaknya bersama jaringan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPA) dan sektor pertanian terus memberikan imbauan agar pada musim tanam ketiga atau musim kemarau kedua, petani tidak memaksakan tanaman yang membutuhkan banyak air, terutama padi.

“Pengendaliannya bukan di air saja, tetapi di jenis tanaman. Kami menghimbau melalui HIPA dan teman-teman pertanian agar pada musim kemarau tidak menanam tanaman yang banyak menggunakan air seperti padi, tetapi lebih ke palawija untuk menghindari gagal panen,” katanya.

Untuk kondisi Telaga Sarangan, Muhtar mengatakan pengelolaannya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat sehingga pihaknya belum mendapatkan informasi terbaru mengenai besaran penurunan muka air secara rinci.

Namun, berdasarkan informasi teknis, muka air Telaga Sarangan disebut mengalami penurunan sekitar dua meter dari elevasi sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, tampungan air yang tersedia masih diperkirakan berada pada kisaran 2,28 juta meter kubik dan masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air.

Penggunaan air dari Telaga Sarangan juga harus memperhitungkan berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan pertanian dan industri. Salah satunya adalah kebutuhan air untuk PG Rejosari.

Muhtar memastikan, dengan pengaturan yang dilakukan, ketersediaan air saat ini masih relatif aman untuk memenuhi kebutuhan pada musim kemarau.

“Untuk mencukupi kebutuhan air di musim kemarau saat ini masih aman,” tegasnya.

Selain Telaga Sarangan, kondisi Bendung Gonggang juga menjadi perhatian karena mengalami penurunan volume seiring berlangsungnya musim kemarau. Pengelolaan air dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan petani dan kondisi tanaman.

Sementara itu, kondisi sejumlah embung yang berukuran lebih kecil relatif bervariasi. Beberapa embung masih memiliki cadangan air cukup karena penggunaannya belum terlalu besar.

Muhtar mencontohkan Embung Campursari yang hingga kini masih memiliki ketersediaan air cukup. Posisi embung yang berada di wilayah relatif tinggi membuat distribusi air dari saluran masih mampu memenuhi kebutuhan petani di bawahnya.

“Campursari itu posisinya tinggi sekali. Air dari saluran masih cukup untuk petani, sehingga belum perlu membuka embung yang ada,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah embung mulai mengalami pengurangan volume dan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi jaringan irigasi di bawahnya.

Untuk memperkuat sistem irigasi dan ketahanan pangan, pemerintah pusat juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp38 miliar untuk penanganan infrastruktur di wilayah Daerah Irigasi (DI) Jejeruk pada tahun ini.

Selain itu, terdapat program melalui Instruksi Presiden (Inpres) dengan anggaran sekitar Rp13,9 miliar untuk pembangunan dua sumur berikut jaringan perpipaan dan sejumlah jaringan irigasi.

Dua lokasi sumur tersebut berada di Tinap dan Mantren. Infrastruktur ini diharapkan dapat memperkuat pasokan air pertanian, terutama ketika sumber air permukaan mengalami penurunan akibat kemarau.

“Sumurnya yang pertama ada di Tinap, yang kedua di Mantren. Ini untuk membantu ketahanan pangan supaya kebutuhan air tercukupi,” kata Muhtar.

Dengan dukungan jaringan irigasi, embung, bendung, telaga, serta sumur, PUPR Magetan berupaya menjaga distribusi air tetap berjalan selama musim kemarau. Di saat yang sama, pengaturan pola tanam menjadi strategi penting agar ketersediaan air yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal dan risiko gagal panen dapat ditekan. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Olah TKP Kebakaran Pasar Srijaya Bakal Libatkan Tim Labfor Polda Jatim Play Button

    Olah TKP Kebakaran Pasar Srijaya Bakal Libatkan Tim Labfor Polda Jatim

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Peristiwa kebakaran kios di Pasar Srijaya Kota Madiun pada Senin (26/01/2026) malam masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Pada Selasa (27/01/2026) tim Inafis Satreskrim Polres Madiun Kota bersama Polsek Kartoharjo melakukan pengecekan dan pengamanan di lokasi kejadian. Sebanyak 4 kios terdampak kebakaran dengan 2 diantaranya hangus terbakar. Kasat Reskrim Polres Madiun […]

    Bagikan
  • Pemkab Madiun Hadirkan Layanan DPMPTSP Lewat BST Muneng, Akses Perizinan UMKM Kian Mudah

    Pemkab Madiun Hadirkan Layanan DPMPTSP Lewat BST Muneng, Akses Perizinan UMKM Kian Mudah

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab.Madiun — Pemerintah Kabupaten Madiun menghadirkan layanan Mall Pelayanan Publik (MPP) secara mobile dalam gelaran Bhakti Sosial Terpadu (BST) 2025 di Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng. Langkah ini disebut sebagai upaya mendekatkan berbagai layanan administrasi publik kepada masyarakat, terutama pelaku UMKM yang membutuhkan akses cepat ke layanan perizinan. Dalam BST ini, Dinas Penanaman Modal […]

    Bagikan
  • Angin Kencang Terjang Ngawi, Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak

    Angin Kencang Terjang Ngawi, Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak

    • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Hujan deras disertai angin kencang melanda sebagian wilayah Kabupaten Ngawi pada Kamis (02/10/2025) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Dampaknya cukup luas, mulai dari rumah warga rusak, fasilitas umum terdampak, hingga pohon tumbang yang menutup akses jalan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi, kerusakan paling banyak terjadi di Kecamatan Mantingan […]

    Bagikan
  • Terminal Purboyo Fasilitasi Lokasi Jualan Pedagang di Area Peron Bus

    Terminal Purboyo Fasilitasi Lokasi Jualan Pedagang di Area Peron Bus

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Setelah lebih dari dua tahun terisolasi di luar area terminal, para pedagang di Terminal Tipe A Purboyo Madiun akhirnya dapat berjualan di dalam terminal. Kepala Terminal Tipe A Purboyo Madiun, Ali Imron, menyatakan bahwa pemindahan kios ke dalam terminal merupakan bentuk pengakomodasian terhadap kebutuhan pedagang. Hal itu juga upaya menghidupkan […]

    Bagikan
  • Polres Madiun Kota Gelar Apel Siaga Bencana Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi

    Polres Madiun Kota Gelar Apel Siaga Bencana Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Menyambut datangnya musim penghujan, personel gabungan dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta sejumlah instansi Pemerintah Kota Madiun menggelar apel kesiapsiagaan bencana di halaman Polres Madiun Kota, Rabu (05/11/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan seluruh personel dan peralatan pendukung dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah […]

    Bagikan
  • Menteri KKP Targetkan Indonesia Hasilkan 2,25 Juta Ton Garam Pada 2025

    Menteri KKP Targetkan Indonesia Hasilkan 2,25 Juta Ton Garam Pada 2025

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, Sakti Wahyu Trenggono, menargetkan produksi garam nasional mencapai 2,25 juta ton pada 2025. Target ini sejalan dengan program pemerintah di bidang ketahanan pangan dan sebagai langkah menuju swasembada garam pada 2027. Untuk memastikan distribusi dan ketersediaan garam di pasaran, Menteri KKP melakukan inspeksi mendadak […]

    Bagikan
expand_less