Okupansi Tembus 148 Persen, KA Bias Jadi Primadona Selama Nataru 2026
- account_circle Kriswanto
- calendar_month Senin, 5 Jan 2026
- visibility 18
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Tren penggunaan transportasi publik kereta api di wilayah Madiun Raya mengalami lonjakan drastis. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mencatat peningkatan layanan KA Lokal Bias (Bandara Adi Sumarmo) selama masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hingga penutupan periode libur pada 4 Januari 2026, total sebanyak 56.735 pelanggan telah menggunakan layanan kereta api penghubung Madiun–Solo ini.
Lonjakan ini membuktikan bahwa integrasi antarmoda antara kereta api dan bandara semakin menjadi pilihan utama masyarakat.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengungkapkan bahwa khusus untuk keberangkatan dari wilayah Daop 7, volume pelanggan mencapai 25.281 orang. Angka ini mencerminkan tingkat okupansi sebesar 148 persen dari total kapasitas tempat duduk yang disediakan.
”KA Lokal Bias semakin diminati karena menawarkan perjalanan yang aman, nyaman, tepat waktu, serta tarif terjangkau. Selama masa Nataru, okupansi bahkan melampaui kapasitas tempat duduk yang tersedia,” ujar Tohari dalam keterangan resminya, Senin (5/1/2026).
Tingginya angka okupansi ini disebabkan oleh sistem tiket kereta lokal yang memungkinkan adanya penumpang tanpa tempat duduk (standing) dalam batas kuota tertentu. Hal itu guna mengakomodasi tingginya permintaan mobilitas masyarakat.
Selama periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, terdapat stasiun yang menjadi titik poin utama kenaikan dan penurunan penumpang. Stasiun Madiun mencatatkan 16. 344 penumpang naik dan 15.684 penumpang turun. Sedangkan, Stasiun Ngawi terdapat 4.438 penumpang naik dan 4.125 turun. Stasiun Magetan mencatatkan 4.273 pelanggan naik dan 4.021 turun.
“Puncak kepadatan terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026, tercatat 1.830 pelanggan naik dan 1.624 pelanggan turun dalam satu hari saja,” imbuh Tohari.
Kehadiran kereta ini dianggap sebagai solusi strategis bagi warga Madiun, Ngawi, dan sekitarnya yang ingin menuju bandara tanpa harus terjebak kemacetan atau bergantung pada kendaraan pribadi.
Tohari menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan sinyal positif bagi pengembangan transportasi publik berkelanjutan di Indonesia. “Capaian ini menunjukkan bahwa integrasi kereta api dengan bandara memiliki relevansi tinggi dan menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat. KAI Daop 7 Madiun berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang mendukung agenda nasional dalam memperkuat sistem transportasi publik terintegrasi,” pungkasnya. (Kris).
- Penulis: Kriswanto


