Pemkab Madiun Edukasi Siswa soal Bencana, Kenalkan Program TAGANA Masuk Sekolah
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Kerawanan tanah longsor dan banjir di wilayah dataran tinggi Kare, Kabupaten Madiun, menjadi alasan pemerintah daerah memperkuat edukasi kebencanaan sejak dini. Melalui program TAGANA Masuk Sekolah, siswa dibekali pengetahuan mitigasi bencana alam sekaligus diajak mencegah perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan.
Program hasil kolaborasi Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun tersebut digelar di SMPN 1 Kare, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini melibatkan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) untuk mengenalkan langkah deteksi dini dan meningkatkan kepedulian siswa terhadap risiko bencana di lingkungan sekitar.
Wakil Bupati Madiun, Purnomo Hadi, mengatakan Kare dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang perlu diantisipasi. Kondisi geografis kawasan dataran tinggi tersebut dinilai memiliki risiko tanah longsor dan banjir.
“Kalau berdasarkan mitigasi, Kare ini memiliki faktor risiko yang cukup tinggi untuk terjadi bencana alam. Karena itu, anak-anak perlu mendapatkan edukasi agar memiliki kepedulian dan memahami langkah antisipasi sejak dini,” kata Purnomo.
Salah satu langkah yang dikenalkan adalah menjaga kelestarian lingkungan melalui penanaman pohon dan reboisasi. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sekaligus membantu mengurangi risiko bencana yang dipicu kerusakan kawasan resapan air.
“Bencana alam seperti banjir bisa dipengaruhi kondisi lingkungan yang gundul. Karena itu, kami mengajak adik-adik ikut peduli terhadap lingkungan, termasuk melalui gerakan menanam pohon,” ujarnya.

Selain bencana alam, program TAGANA Masuk Sekolah turut mengenalkan bencana nonalam dan bencana sosial. Salah satu perhatian yang disoroti adalah perundungan di lingkungan sekolah.
Purnomo menegaskan, perundungan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele karena dapat berdampak terhadap kondisi psikologis korban, hubungan sosial, serta perkembangan peserta didik.
“Di sekolah tidak boleh ada bullying, karena bullying ini menyebabkan degradasi sosial bagi anak-anak yang terdampak,” katanya.
Ia menjelaskan, edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter siswa agar tidak hanya tanggap menghadapi ancaman bencana, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan.
Pemkab Madiun mendorong sinergi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) agar pendidikan kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak peserta didik. SMPN 1 Kare menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program yang berpeluang dikembangkan ke sekolah lain. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





