Peringati 2 Tahun Kinerja, DPRD Kota Madiun Gelar Wayang Kulit Semar Mbangun Kahyangan
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 61
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Memperingati dua tahun kinerja DPRD Kota Madiun periode 2024–2029, pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Mbangun Kahyangan digelar di Taman Aspirasi, Sabtu (17/10/2026). Menghadirkan dalang kondang Ki Sigid Ariyanto bersama dalang lokal kebanggaan Kota Madiun, Ki Aditya Krisna, acara ini menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya, penyampaian pesan moral, dan edukasi kebijakan publik.
Ratusan warga tampak antusias mengikuti pertunjukan seni tradisional tersebut. Tak sekadar menjadi hiburan, pagelaran wayang kulit ini juga membawa pesan tentang pentingnya membangun kehidupan bermasyarakat yang berlandaskan hati nurani, kebijaksanaan, dan keluhuran budi pekerti.
Dalam kesempatan ini juga diserahkan bantuan kepada anak yatim piatu, disabilitas hingga lansia. Bantuan ini sebagai bentuk kepedulian DPRD dan Pemkot Madiun kepada warga yang membutuhkan.
Lakon Semar Mbangun Kahyangan dipilih sebagai refleksi bahwa pembangunan sejati tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga harus disertai pembenahan moral dan integritas.
Ketua DPRD Kota Madiun, Armaya dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepada lembaga legislatif selama dua tahun terakhir. Ia menegaskan, kritik dan masukan publik merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.

“Atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPRD Kota Madiun, kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah memercayai kami selama dua tahun ini. Terima kasih juga atas kritikannya, atas demo-demonya. Ini tentunya untuk kebaikan kami, terutama di DPRD, dalam rangka menjadi wakil dari masyarakat Kota Madiun,” ujarnya.
Menurut Armaya, dinamika hubungan antara legislatif dan eksekutif, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah, perlu dipandang sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat. Perbedaan pandangan seharusnya menjadi pintu dialog untuk menghasilkan kebijakan yang lebih baik.
Ia juga menekankan pentingnya harmonisasi, kolaborasi, dan komunikasi antara DPRD, Pemerintah Kota Madiun, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta instansi vertikal.
“Semua ini untuk Kota Madiun yang bermartabat. Kebijakan harus berintegritas. Karena dengan integritas ini masyarakat bisa bahagia, masyarakat bisa tersenyum, pembangunan bisa terlaksana dengan baik,” tuturnya.
Armaya berharap, semangat kebersamaan tersebut terus diperkuat agar pembangunan Kota Madiun benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat, bukan kepentingan golongan maupun perorangan.
Ia menjelaskan, pemilihan lakon Semar Mbangun Kahyangan juga selaras dengan harapan agar setiap proses pembangunan dilakukan melalui perencanaan yang matang dan berlandaskan hati nurani.
Nilai edukasi dalam acara ini semakin terasa melalui sesi goro-goro yang dibawakan oleh pelawak Gareng Semarang dan Eka Kebumen. Di sela-sela humor yang mengundang tawa penonton, keduanya turut menyampaikan sosialisasi mengenai kebijakan yang berkaitan langsung dengan perlindungan masyarakat.
Dua regulasi yang disosialisasikan yakni Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Santunan Kematian bagi masyarakat Kota Madiun serta Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
Pendekatan melalui pertunjukan seni tradisional diharapkan dapat membuat informasi kebijakan lebih mudah diterima masyarakat. Dengan suasana yang santai dan menghibur, pesan mengenai perlindungan sosial dapat disampaikan tanpa menghilangkan karakter khas pertunjukan wayang.

Plt Wali Kota Madiun, F Bagus Panuntun, menyambut positif penyelenggaraan pagelaran wayang kulit tersebut. Ia menilai, konsistensi DPRD dalam menghadirkan pertunjukan wayang setiap tahun merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian seni dan budaya daerah.
“Saya senang. DPRD sesuai dengan apa yang kami, Pemerintah Kota, harapkan. Seni budaya konsisten dijaga DPRD, tiap tahun ada wayang. Tahun depan harus ada wayang lagi,” katanya.
Bagus menyebut, Pemerintah Kota Madiun saat ini juga tengah mendorong pengembangan seni dan budaya. Dukungan DPRD dinilai dapat memperkuat upaya bersama dalam menjaga kesenian tradisional agar tetap hidup dan diminati masyarakat.
Lebih dari itu, ia melihat pagelaran tersebut mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi warga. Kehadiran penonton memberikan peluang bagi pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Taman Aspirasi untuk memperoleh penghasilan tambahan.
“Wayang ini memberikan dampak di sekelilingnya, salah satunya dagangane bakule. Dampak ekonominya dapat,” ujarnya.
Menurut Bagus, penyelenggaraan kegiatan budaya idealnya tidak hanya memberikan pengalaman hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi lokal. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan warga.
Dalam kesempatan tersebut, Bagus juga mengapresiasi peran DPRD yang selama dua tahun terakhir aktif menyampaikan kritik, saran, dan masukan kepada pemerintah daerah.
Baginya, keberadaan legislatif sebagai mitra sekaligus penyeimbang eksekutif merupakan bagian penting dalam memastikan kebijakan pemerintah tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Tentunya setiap program yang ditujukan bagi kepentingan publik akan mendapat dukungan bersama dari Pemerintah Kota Madiun dan DPRD,” tegasnya.
Salah satu agenda yang tengah dipersiapkan adalah pola pembangunan berbasis kelurahan untuk perencanaan tahun 2027. Pendekatan ini diharapkan membuat perencanaan pembangunan lebih dekat dengan kebutuhan warga di setiap wilayah, sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045.
Suasana kebersamaan dalam pagelaran wayang kulit ini turut tercermin dari kehadiran jajaran Forkopimda Kota Madiun, pimpinan instansi, unsur partai politik, akademisi perguruan tinggi, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), lurah, hingga organisasi penghayat kepercayaan.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi ruang perjumpaan lintas kelompok sekaligus memperkuat komunikasi antarlembaga dan masyarakat. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Krz/Diez





