
Sinergia | Madiun – Musim panen durian kembali membawa berkah bagi Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Dusun Segulung, Desa Segulung, yang berada di kawasan pegunungan, berubah menjadi magnet bagi para pecinta durian dari berbagai daerah.
Tak hanya berburu buah durian segar, pengunjung juga dimanjakan dengan suasana sejuk dan sajian kuliner khas berbahan durian.
Pembeli datang silih berganti, mulai dari warga lokal hingga pengunjung luar daerah. Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi menikmati durian langsung dari kebun petani.
Salah satu pengunjung, Eldyssa Rakhma Pridianti, warga Kecamatan Saradan, mengaku rutin datang ke Dagangan setiap musim durian tiba. Menurutnya, kelengkapan jenis durian menjadi daya tarik utama kawasan ini.
“Kalau beli di bawah pilihannya terbatas. Di sini lengkap, suasananya juga sejuk, banyak pepohonan, jadi makin nyaman,” tuturnya.
Tak hanya dari wilayah Madiun, pengunjung juga datang dari luar kota. Anggun Annisa Putri, warga Kabupaten Jombang, mengaku sengaja datang ke Dagangan setelah mendapat rekomendasi dari teman-temannya.
“Saya berangkat dari Jombang karena katanya duriannya manis dan enak. Di sini nyaman, bisa makan durian langsung di pegunungan,” kata Anggun, Sabtu (17/1/2026).
Kenikmatan menyantap durian di Dagangan semakin lengkap dengan hadirnya menu olahan berbahan durian, salah satunya es teler durian. Sajian ini menjadi pilihan favorit pengunjung setelah menikmati durian segar, terutama di siang hari.
“Selain makan durian, di sini juga ada es teler durian. Rasanya segar, cocok dinikmati di udara dingin pegunungan,” tambah Anggun.

Menurut para penjual, pilihan durian di kawasan Dagangan sangat beragam. Mulai dari durian lokal khas Segulung hingga jenis premium seperti Montong, Bawor, Kani, Musang King, dan Duri Hitam, tersedia di lapak-lapak pedagang.
Petani sekaligus penjual durian, Winanto, mengatakan saat musim panen raya, pasokan durian bisa mencapai ratusan hingga ribuan buah setiap harinya.
“Kalau musim raya, stok sehari bisa 500 sampai 1.000 buah. Itu hasil dari petani sekitar yang kami tampung,” jelasnya.
Meski tersedia durian premium, Winanto menyebut durian lokal justru menjadi primadona. “Peminat durian lokal lebih banyak karena harganya terjangkau. Rasanya juga khas, ada manis, ada manis pahit,” ungkapnya.
Harga durian lokal bervariasi, tergantung ukuran dan kualitas. Mulai dari Rp25 ribu per buah hingga Rp150 ribu untuk ukuran besar. Dalam sehari, Winanto mengaku mampu menjual sekitar 500 hingga 700 buah durian.
“Musim durian biasanya mulai Oktober, tapi ramai sejak Desember. Puncaknya Januari sampai awal Februari,” pungkasnya. Musim durian di Dagangan bukan sekadar soal buah, tetapi juga pengalaman. Perpaduan durian segar, es teler durian, udara pegunungan, dan panorama alam menjadikan kawasan ini destinasi favorit wisata kuliner musiman di Kabupaten Madiun.(Tov/Krs).