Skema Murur Disiapkan, Kloter SUB 22 Fokus Nafar Awal dan Kesiapan Jemaah Capai 95 Persen
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun — Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Madiun menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Murur dan Tanazul haji tahun 1447 H/2026. Rakor bersama ketua kloter, ketua rombongan (karom), dan ketua regu (karu) berlangsung di Aula Kantor Kemenag Kota Madiun pada Senin (30/3/2026). Rakor ini membahas kesiapan pelaksanaan ibadah haji, khususnya skema Murur, Tanazul, dan Nafar bagi 223 calon jemaah haji Kota Madiun yang tergabung dalam Kloter SUB 22 bersama Ngawi dan Surabaya.
Kepala Kantor Kemenhaj Kota Madiun, Datik Ardiyah, menyampaikan bahwa pembahasan utama dalam rakor adalah mekanisme Murur sebagai bagian dari mitigasi bagi jemaah dengan kondisi tertentu. Berdasarkan data sementara, terdapat 19 jemaah asal Kota Madiun yang masuk dalam kategori Murur.
“Murur ini untuk data sementara baru ada 19 orang dari Kota Madiun. Untuk daerah lain seperti Ngawi dan Surabaya masih dalam proses pendataan,” ujarnya.
Murur sendiri merupakan skema pergerakan jemaah dari Arafah melintasi Muzdalifah tanpa turun, yang diperuntukkan bagi jemaah risiko tinggi seperti lansia, disabilitas, dan mereka yang membutuhkan pendampingan khusus.
Selain Murur, rakor juga memutuskan bahwa Kloter SUB 22 tidak akan mengikuti skema Tanazul meskipun sebelumnya terdapat arahan dari pusat. Keputusan ini diambil berdasarkan hasil kesepakatan bersama dalam rapat, artinya jemaah kota Madiun akan tetap melaksanakan mabit di Mina.
Lebih lanjut, karena Kloter SUB 22 merupakan kloter awal, jemaah diarahkan untuk mengambil Nafar Awal, bukan Nafar Sani. Hal ini mempertimbangkan jadwal kepulangan yang relatif cepat setelah rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Kloter awal ini setelah Armuzna harus segera bersiap untuk pemulangan, sehingga kami arahkan untuk mengambil Nafar Awal,” kata Datik.
Terkait kesiapan jemaah, Datik menyebutkan bahwa secara umum telah mencapai 95 persen. Ia memastikan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam skema keberangkatan meskipun terdapat dinamika global.
“Insyaallah kesiapan sudah 95 persen. Keberangkatan tetap sesuai rencana, hanya kemungkinan ada penyesuaian waktu penerbangan dari pukul 03.00 menjadi pukul 06.00,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kloter SUB 22, Zainal Arifin, menjelaskan bahwa pendataan Murur menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan teknis di lapangan, termasuk akomodasi dan transportasi.
“Pendataan ini penting untuk mitigasi. Kita harus memilah mana jemaah yang mengikuti Murur dan yang tidak, berdasarkan hasil medical check-up (MCU), terutama untuk kategori risiko tinggi,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh jemaah yang masuk skema Murur wajib memenuhi syarat, termasuk memiliki pendamping. Validasi akhir tetap mengacu pada hasil pemeriksaan kesehatan jemaah.
Zainal Arifin menambahkan bahwa pembinaan jemaah telah dilakukan secara intensif sejak jauh hari. Struktur kelompok seperti karu dan karom juga sudah terbentuk untuk memudahkan koordinasi di lapangan.
“Administrasi sudah berjalan baik, pembinaan juga terus dilakukan. Dengan dukungan KBIHU, insyaallah jemaah siap, tinggal menunggu waktu keberangkatan,” katanya.
Untuk penyampaian teknis kepada jemaah, pihak Kemenhaj menyerahkan sepenuhnya kepada karu dan karom agar informasi dapat diterima secara lebih efektif dan tidak menimbulkan kebingungan. Dengan berbagai persiapan tersebut, jemaah Kloter SUB 22 diharapkan dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar, aman, dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.(Krs).
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez






