Stok Beras Melimpah, Bulog Optimistis Ketahanan Pangan Nasional Terjaga
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 43
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Perum Bulog memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman dan mencukupi. Masyarakat pun diminta tidak perlu khawatir terhadap pasokan pangan, seiring tingginya stok yang saat ini dikuasai pemerintah.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan hal tersebut saat meninjau gudang Bulog di Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (4/4/2026).
Ia mengungkapkan, hingga 3 April 2026, stok beras Bulog telah mencapai 4,4 juta ton. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, sekaligus melampaui capaian tahun sebelumnya.
“Per awal April ini, cadangan beras kita sudah menyentuh 4,4 juta ton. Ini rekor tertinggi yang pernah kita capai dan masih berpotensi terus bertambah,” ujarnya.
Menurut Ahmad Rizal, potensi peningkatan stok masih sangat besar mengingat masa panen di sejumlah daerah masih berlangsung. Dengan sisa waktu produksi hingga akhir tahun, penyerapan gabah petani diperkirakan terus meningkat.
“Ini baru awal April, sementara masa panen masih berjalan. Artinya, peluang penyerapan beras dari petani masih terbuka lebar dalam beberapa bulan ke depan,” katanya.
Dalam peninjauan tersebut, kondisi gudang Bulog yang terisi penuh turut menjadi bukti kuat tingginya produksi pangan nasional. Ia menilai hal itu mencerminkan kemandirian pangan Indonesia yang semakin baik.
“Kondisi gudang yang penuh ini menunjukkan produksi pangan kita sangat baik. Ini menjadi indikator bahwa kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bulog memproyeksikan stok beras nasional hingga akhir 2026 dapat mencapai 6 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk menjaga stabilitas pasokan, termasuk menghadapi potensi gangguan iklim seperti El Nino.
“Dengan tren produksi saat ini, kami optimistis stok bisa mencapai 6 juta ton di akhir tahun. Ini cukup untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk dampak perubahan iklim,” ungkapnya.
Ahmad Rizal menambahkan, peningkatan produksi pertanian juga dipengaruhi berbagai kebijakan pemerintah. Di antaranya penetapan harga gabah, penurunan harga pupuk, serta bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Harga gabah yang ditetapkan pemerintah, pupuk yang lebih terjangkau, serta dukungan alsintan membuat petani semakin bersemangat meningkatkan produksi,” ujarnya.
Ia pun menegaskan, capaian ini menjadi langkah penting menuju swasembada pangan nasional, tidak hanya pada komoditas beras, tetapi juga jagung.
“Ini momentum yang sangat baik bagi kita. Kita semakin dekat menuju swasembada beras dan juga jagung,” pungkasnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez






