
Sinergia | Kab. Madiun – Cuaca tidak menentu pada musim kemarau basah 2025 berdampak langsung pada kualitas tembakau di Kabupaten Madiun. Kondisi ini membuat harga jual tembakau rajangan milik petani di Desa Ngale, Kecamatan Pilangkenceng, turun dari kisaran Rp. 48 ribu menjadi sekitar Rp. 45 ribu per kilogram.
Suprawito, salah satu petani setempat, menyebut tembakau jenis srumpung yang ditanam di Ngale memiliki kelas A, B, hingga C.
“Untuk daun terbaik saat ini hanya bisa laku sekitar Rp. 47 ribu per kilo. Turunnya harga karena kualitas daun berkurang akibat hujan yang tidak menentu,” katanya, Jumat (12/09/2025).
Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun mencatat, musim kemarau basah tahun ini juga mengurangi luas lahan tembakau di Pilangkenceng. Dari sebelumnya 140 hektare, kini menyusut menjadi 122 hektare karena sebagian petani memilih beralih menanam jagung untuk menghindari risiko gagal panen.
Menurut Kepala Bidang Perkebunan Disperta Madiun, Imron Rosidi, daya resap air di wilayah dataran rendah seperti Pilangkenceng dan Balerejo relatif buruk sehingga tanaman tembakau rentan rusak.
“Berbeda dengan di lereng Gunung Wilis, seperti Kare dan sekitarnya, yang justru mengalami peningkatan lahan dari 125 hektare menjadi 195 hektare karena kondisi tanah lebih cepat menyerap air,” ujarnya.
Kabupaten Madiun memiliki dua jenis tembakau andalan: Srumpung Rajangan di wilayah dataran rendah serta Kasturi yang ditanam di kawasan pegunungan mulai Kare, Dagangan, hingga Saradan. Dua varietas ini selama bertahun-tahun menjadi komoditas unggulan petani tembakau lokal, meski fluktuasi cuaca kerap memengaruhi kualitas dan harga di tingkat pasar.
Tova Pradana – Sinergia