
Sinergia | Kab. Madiun — Jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan akibat retakan tanah di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terus bertambah. Jika sebelumnya hanya enam rumah terdampak, kini jumlahnya meningkat menjadi delapan rumah.
Retakan tanah sepanjang sekitar 500 meter itu membentang di Dusun Mendak dan Morosowo membentuk pola menyerupai huruf U. Kondisi tersebut membuat warga panik dan memilih mengamankan barang berharga ke mushala yang berjarak tak jauh dari lokasi retakan.
Salah satu warga terdampak, Warsini (38), mengaku langsung mengungsi bersama keluarganya begitu melihat dinding rumahnya retak pada Kamis (30/10) lalu.
“Begitu muncul retakan, kami langsung keluar dan mengungsi ke mushala bersama enam keluarga lain,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).
Meski sebagian warga telah kembali ke rumah setelah kondisi dianggap aman, kekhawatiran masih menghantui mereka.
“Kalau hujan turun lagi, kami siap mengungsi. Kondisi rumah belum sepenuhnya aman,” tambah Warsini.
Warga lain, Sumiati (40), tak kuasa menahan tangis saat melihat lantai rumahnya terbelah akibat pergeseran tanah. Retakan dengan lebar antara 10 hingga 15 sentimeter membentang dari ruang tamu hingga dapur.
“Saya dengar suara seperti tanah pecah setelah hujan reda. Tidak lama kemudian lantai rumah retak semua,” tuturnya.
Sumiati bersama keluarganya sempat mengungsi ke lokasi lebih tinggi lantaran khawatir terjadi pergeseran tanah lanjutan.
“Ada sepuluh kepala keluarga yang terdampak. Kami takut kalau hujan turun lagi,” katanya.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim reaksi cepat untuk memantau dan melakukan pendataan di lokasi.
“Petugas langsung menuju lokasi begitu menerima laporan pertama pada Rabu. Pemantauan terus kami lakukan hingga hari ini,” ujar Boby.
Menurut Boby, lebar dan panjang retakan diperkirakan masih dapat bertambah, terutama jika intensitas hujan meningkat. Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, warga terdampak telah dievakuasi ke wilayah dataran tinggi yang lebih aman.
“Kami juga sudah menyalurkan bantuan logistik, seperti makanan dan perlengkapan tidur bagi warga yang mengungsi,” tambahnya.
BPBD Kabupaten Madiun juga telah melaporkan kejadian ini kepada BPBD Provinsi Jawa Timur untuk mendapatkan dukungan alat pemantauan tanah gerak yang lebih canggih.
“Kami berharap ada bantuan tambahan dari provinsi agar pemantauan bisa lebih maksimal,” pungkas Boby.
Hingga Jumat (31/10/2025), petugas masih siaga di lokasi untuk memantau perkembangan kondisi tanah serta memastikan keselamatan warga di sekitar area terdampak.
Tova Pradana – Sinergia