Pabrik Pengolahan Porang Dibangun di Saradan, Angin Segar bagi Petani dan Siap Serap Tenaga Kerja
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 62
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Kabupaten Madiun bersiap menjadi salah satu pusat hilirisasi porang nasional. Pemerintah Kabupaten Madiun bersama PT Fengshuo Konjac Indonesia resmi memulai pembangunan pabrik pengolahan porang di Desa Sumbersari, Kecamatan Saradan, Rabu (4/2/2026).
Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Bupati Madiun Hari Wuryanto dan disaksikan jajaran direksi perusahaan, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kecamatan dan desa, serta kelompok petani porang setempat.
Pabrik ini ditargetkan mulai dibangun pada Maret 2026 dan beroperasi penuh pada 2027. Kehadirannya diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 300 hingga 500 orang serta meningkatkan nilai tambah komoditas porang di Kabupaten Madiun.
“Pembangunan pabrik ini sejalan dengan program hilirisasi industri pemerintah pusat. Porang tidak lagi dijual mentah, tapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti chip, tepung, hingga beras porang,” ujar Bupati Hari Wuryanto di sela acara.
Selain mendorong hilirisasi, Bupati menegaskan investasi ini diharapkan memberi kepastian harga bagi petani porang yang sebelumnya kerap terdampak fluktuasi harga ekstrem.
“Saya meminta investor memprioritaskan pembelian porang dari petani lokal dan merekrut tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Petani harus untung, harga harus stabil,” tegasnya.
Bupati juga menilai pembangunan pabrik ini akan berdampak langsung pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta pengurangan angka pengangguran di Kabupaten Madiun, sejalan dengan visi pembangunan daerah “BERSAHAJA”.
Sementara itu, Kuasa Direksi PT Fengshuo Konjac Indonesia, Emanuel Ebenhaezer Lubis, menyebut potensi produksi porang di Madiun, khususnya Saradan, sangat besar dan strategis.
“Porang di wilayah Saradan luar biasa. Lokasi pabrik dekat dengan sentra tanam membuat biaya distribusi petani lebih efisien,” kata Emanuel.
Menurutnya, pabrik ini membutuhkan pasokan bahan baku porang dalam jumlah besar, diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per tahun. Umbi porang dari petani akan diolah menjadi chip sebelum diekspor ke luar negeri, dengan China sebagai negara tujuan utama.
“Kami berharap petani porang di Kabupaten Madiun bisa menjadi pemasok utama. Ini bentuk sinergi swasta dan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi daerah,” ujarnya.
Selain menyerap tenaga kerja tetap, perusahaan juga akan memberdayakan tenaga kerja musiman, terutama warga sekitar Kecamatan Saradan, sebagai upaya mendukung pengentasan kemiskinan di wilayah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Madiun pun berkomitmen terus mengawal keberlanjutan investasi ini dengan menjaga ekosistem pertanian porang agar pasokan bahan baku tetap terjaga dan harga tetap stabil.(Tova).


- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Kris
