Bulog Pastikan Harga Gabah Petani Terjaga, Ngawi Jadi Lumbung Produksi Strategis
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Perum Bulog memastikan harga gabah di tingkat petani tetap terkendali sesuai ketentuan pemerintah. Kepastian itu disampaikan Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, saat menghadiri panen perdana musim tanam 2026 di Desa Baderan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Sabtu (4/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Bulog melakukan pengecekan langsung di lapangan guna memastikan harga pembelian gabah berjalan sesuai aturan. Dari hasil pantauan, bahkan ditemukan adanya transaksi yang melampaui harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Ahmad Rizal menegaskan, kehadiran Bulog di tengah petani merupakan bentuk komitmen untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi kesejahteraan petani. Ia menyebut, langkah ini juga berdampak pada peningkatan nilai tukar petani.
“Kami turun langsung untuk memastikan petani mendapatkan harga yang layak sesuai ketentuan. Di lapangan, kami juga melihat ada pembelian gabah yang nilainya justru di atas harga pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengawasan yang dilakukan Bulog akan terus diperkuat, terutama di wilayah sentra produksi, agar tidak terjadi permainan harga yang merugikan petani.
“Kami ingin memastikan mekanisme pasar tetap berpihak pada petani. Dengan pengawalan ini, harapannya kesejahteraan petani bisa terus meningkat,” imbuhnya.
Panen perdana di Desa Baderan menjadi penanda dimulainya musim tanam pertama tahun ini. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi produksi yang besar dan hasil panen yang cukup baik.
Menurut Ahmad Rizal, produktivitas pertanian di kawasan tersebut menunjukkan tren positif dan layak menjadi salah satu fokus dalam penguatan program swasembada pangan nasional.
“Potensi di desa ini sangat besar. Hasil panennya juga bagus, sehingga sangat mendukung upaya peningkatan produksi pangan nasional,” katanya.

Di sisi lain, Bulog menargetkan penyerapan gabah dan beras secara nasional mencapai 4 juta ton sepanjang 2026, sebagaimana arahan pemerintah pusat. Hingga awal April, capaian stok beras bahkan telah melampaui target awal yang ditetapkan.
Ahmad Rizal mengungkapkan, per 3 April 2026, stok beras yang dikuasai Bulog telah mencapai 4,4 juta ton. Capaian tersebut dinilai sebagai langkah positif menuju swasembada pangan.
“Stok beras kita saat ini sudah mencapai 4,4 juta ton. Ini menjadi modal kuat untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menuju target swasembada tahun 2026,” jelasnya.
Terkait kapasitas penyimpanan, ia memastikan kondisi gudang Bulog masih mencukupi untuk menampung hasil serapan petani. Saat ini, kapasitas total gudang mencapai sekitar 5,2 juta ton, dengan ruang tersisa yang masih tersedia.
“Kapasitas gudang kita masih cukup, bahkan masih ada ruang sekitar 1,2 juta ton. Selain itu, kami juga memanfaatkan gudang sewa dan filial untuk mendukung penyerapan,” ungkapnya.
Sebagai upaya penguatan infrastruktur, Bulog juga akan membangun 100 unit gudang baru yang dilengkapi fasilitas pascapanen, seperti pengering, penggilingan, hingga pengemasan.
“Pembangunan gudang baru akan mulai berjalan tahun ini. Kami targetkan bisa selesai secara bertahap hingga 2026 untuk memperkuat sistem logistik pangan nasional,” terangnya.
Ia menambahkan, pembangunan tersebut akan diprioritaskan di wilayah terdepan dan kepulauan guna mengatasi kendala distribusi.
Dalam konteks regional, Kabupaten Ngawi dinilai sebagai salah satu kontributor penting produksi pangan di Jawa Timur. Dari total produksi provinsi, Ngawi menyumbang porsi signifikan sekitar 27 persen.
“Kontribusi Ngawi sangat besar. Ini menunjukkan daerah ini menjadi salah satu penopang utama produksi pangan, khususnya di Jawa Timur,” pungkasnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez






