Cuaca 42 Derajat, Jemaah Haji Asal Madiun Diminta Kurangi Aktifitas Ibadah Sunnah Jelang Puncak Haji
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 93
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Jelang puncak rangkaian ibadah Haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Madiun intens memantau kondisi ratusan jamaah di Tanah Suci.
Kepala Kantor Kementerian Haji Kabupaten Madiun, Bisri Mustofa, meminta ratusan jemaah haji asal Kabupaten Madiun mengurangi aktivitas ibadah sunah menjelang puncak haji. Imbauan itu disampaikan menyusul cuaca ekstrem di Arab Saudi yang mencapai 42 derajat Celsius serta adanya puluhan jemaah kategori risiko tinggi (Risti).
Sebanyak 457 jemaah haji asal Kabupaten Madiun yang tergabung dalam Kloter 24 dan 25 saat ini bersiap menghadapi rangkaian puncak ibadah haji yang dijadwalkan berlangsung ahad mendatang atau pada 24-25 Mei 2026.
“Alhamdulillah kondisi jemaah sehat semuanya. Saat ini fokus persiapan Armuzna,” ujar Bisri Mustofa, Jumat (22/5/2026).
Dari total jemaah tersebut, sebanyak 85 orang tercatat masuk kategori risiko tinggi. Mereka terdiri dari jemaah lanjut usia maupun yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Meski begitu, Bisri memastikan seluruh jemaah Risti mendapatkan pendampingan khusus dari petugas selama menjalani ibadah di Tanah Suci.
“Mereka sudah ada pendampingnya. Jadi ke mana pun dan aktivitas apa pun sudah dibantu petugas masing-masing,” katanya.
Menurut Bisri, petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bersama petugas sektor juga telah melakukan survei langsung ke lokasi Armuzna untuk memastikan kesiapan fasilitas jemaah.
Pengecekan dilakukan mulai dari lokasi tenda di Mina dan Arafah hingga memastikan posisi pemondokan jemaah agar tidak terjadi kebingungan saat puncak ibadah berlangsung.
“Di Mina jaraknya sekitar dua kilometer dengan maktab dan aksesnya lewat terowongan sehingga tidak terlalu jauh. Untuk Arafah juga sudah dipastikan lokasinya,” ujarnya.
Meski persiapan teknis terus dimatangkan, pihaknya masih menunggu kepastian skema pelayanan dari syarikah atau perusahaan layanan haji di Arab Saudi.
“Kita mendapat dua syarikah, jadi masih menunggu informasi lanjutan terkait penempatan jemaah,” tambahnya.
Bisri juga menyoroti kondisi cuaca panas ekstrem yang dinilai menjadi tantangan serius bagi jemaah Indonesia, khususnya lansia dan kategori risiko tinggi.
Menurutnya, suhu 42 derajat Celsius tetap berbahaya meski sedikit lebih rendah dibanding musim haji tahun sebelumnya.
“Cuaca 42 derajat itu sudah sangat panas. Karena itu jemaah harus benar-benar menjaga stamina,” tegasnya.
Ia mengimbau jemaah mengurangi aktivitas fisik yang berlebihan seperti umrah sunah berulang atau terlalu lama beribadah di Masjidil Haram demi menjaga kondisi tubuh tetap fit menjelang Armuzna.
“Inti ibadah haji itu ada di Armuzna. Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak ibadah. Perbanyak istirahat di hotel dan ibadah di musala hotel juga tetap mendapat pahala karena masih berada di Tanah Haram,” katanya.
Selain memastikan kondisi kesehatan jemaah, pihak Kemenhaj Kabupaten Madiun juga memastikan layanan konsumsi berjalan normal. Menu makanan khas Indonesia seperti ayam, ikan patin, dan lauk lainnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan jemaah.
Sementara bagi jemaah lansia maupun risiko tinggi, menu makanan dapat disesuaikan sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
“Kalau ada kebutuhan khusus terutama untuk lansia bisa disampaikan ke petugas konsumsi,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





