Jembatan Nambak–Bekare Ambrol, Dua Warga Ponorogo Luka
- account_circle Ega Patria
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- visibility 83
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Jembatan penghubung di Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, ambrol pada Kamis (5/2) dini hari. Ambrolnya jembatan darurat yang telah berusia lebih dari lima tahun itu mengakibatkan dua warga Desa Bekare terjatuh saat melintas dan mengalami luka, salah satunya patah tulang.
Peristiwa jembatan roboh terjadi sekitar pukul 01.00 WIB di Dukuh Masaran, Desa Nambak. Warga sekitar sempat mendengar suara gemuruh sebelum jembatan ambruk akibat pondasi yang longsor diterjang banjir serta tumpukan sampah bambu dari Sungai Pelem.
Salah seorang warga Nambak, Walikun, mengatakan jembatan tersebut merupakan akses utama warga untuk beraktivitas sehari-hari. Namun sejak ambruk, warga terpaksa memutar cukup jauh.
“Biasanya lewat sini. Sekarang tidak bisa, harus muter lewat Bekare. Lumayan jauh,” ujarnya.
Warga lainnya, Alvian Dwi Purnomo, menyebut tanda-tanda kerusakan jembatan sebenarnya sudah terlihat sejak 2025. Retakan pada pondasi jembatan muncul dan semakin parah saat hujan deras melanda kawasan tersebut beberapa hari terakhir.
“Jembatan ini sebenarnya sudah lama rusak, tapi masih dipertahankan. Jembatan darurat ini sudah lebih dari lima tahun. Kena banjir, akhirnya longsor,” katanya.
Akibat ambrolnya jembatan tersebut, dua pengendara asal Desa Bekare terjatuh saat melintas. Korban diketahui bernama Sri Winih (48) dan Ani Wijayanti (31). Keduanya merupakan warga Dukuh Pandean RT 002 RW 001, Desa Bekare, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, dengan pekerjaan swasta.
Dalam kejadian tersebut, satu korban mengalami luka ringan berupa lecet pada tangan, sementara satu korban lainnya mengalami luka berat akibat patah tulang tangan dan masih menjalani perawatan di RSU Aisyah Ponorogo.
Kapolsek Bungkal AKP Anwar Fathoni membenarkan adanya korban dalam peristiwa tersebut. Ia menyatakan jembatan tersebut sebenarnya sudah dinyatakan tidak layak dilewati, terutama untuk kendaraan roda empat.
“Dari pemerintah desa maupun Forkopimcam sebenarnya sudah memberikan peringatan bahwa jembatan itu tidak layak dilewati. Sudah ada tanda-tanda peringatan dini,” jelasnya.
Namun diduga karena tergesa-gesa, korban tetap melintas pada dini hari sekitar pukul 04.30 WIB hingga akhirnya terperosok saat jembatan ambrol.
Saat ini, jembatan tersebut dinyatakan lumpuh total dengan bagian ambrol sepanjang sekitar 20 meter. Akibatnya, warga Desa Bekare harus memutar sejauh dua hingga sepuluh kilometer untuk menuju wilayah seberang.
Pihak kepolisian bersama BPBD dan Forkopimcam telah melakukan koordinasi untuk penanganan lanjutan. Evakuasi puing-puing jembatan dilakukan serta pelaporan ke instansi terkait guna percepatan pembangunan jembatan sementara agar akses warga dapat kembali normal.(ega).



- Penulis: Ega Patria
- Editor: Kris

