
Sinergia | Magetan – Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata resmi meluncurkan Calendar of Event (CoE) Magetan 2026 dalam sebuah rangkaian kegiatan selama tiga hari, mulai Kamis (11/12) hingga Sabtu (13/12). Acara pembuka digelar dengan konsep seni yang lebih kreatif dan menggugah, menampilkan kolaborasi lintas disiplin yang memadukan seni rupa, seni pertunjukan, dan kekayaan lokal Magetan.
Kepala Disbudpar Magetan, Joko Trihono, menjelaskan bahwa peluncuran tahun ini dirancang tidak sekadar sebagai seremoni, melainkan sebagai etalase awal arah pengembangan pariwisata sepanjang 2026. Pada hari pertama, pengunjung disuguhi pertunjukan Tembang Pitu yang diawali dengan sebuah happening art bertema Samata Samapita. Pertunjukan ini memadukan seni lukis tiga dimensi dengan gerak kreatif berbahan bambu. Menurut Joko, bambu dipilih bukan tanpa alasan.
“Bambu adalah tanaman khas Magetan yang menjadi bagian dari branding daerah. Filosofinya, Samata Samapita, menggambarkan bahwa bambu selalu tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Selain manfaat ekologis, bambu juga mendukung pengembangan ekonomi kreatif,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Pada hari kedua, panggung akan diisi festival band pelajar, dilanjutkan dengan gelar seni musik tradisi pada malam harinya. Sementara itu, hari ketiga akan ditutup dengan parade musik keroncong, yang diharapkan dapat terus berkembang sebagai identitas musikal Magetan.
“Musik keroncong ini musik asli Indonesia. Magetan sudah beberapa kali menampilkannya dan mendapatkan apresiasi luas. Karena itu parade keroncong kembali kita hadirkan,” tambah Joko.
Disbudpar Magetan menyiapkan 37 agenda dalam Calendar of Event 2026. Salah satu event unggulan yang kembali dimasukkan adalah Labuhan Sarangan, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh Pemerintah Republik Indonesia. Joko menargetkan event tersebut dapat terus berkembang dan pada akhirnya menembus kalender event nasional.
Lebih dari sekadar rangkaian tontonan budaya, CoE Magetan 2026 diharapkan membawa dampak nyata bagi masyarakat. “Event ini saya harap bukan hanya tampilan musik atau seni, tetapi juga membawa kebermanfaatan. Selain menjaga tradisi, masyarakat harus mampu bergerak di dalamnya, termasuk UMKM dan pelaku ekonomi kreatif,” tegas Joko.
Peluncuran CoE 2026 ini menjadi penanda awal perjalanan panjang pariwisata Magetan tahun depan, dengan fokus pada pelestarian tradisi, kreativitas seni, serta penguatan ekonomi masyarakat lokal. (Nan/Krs).