
Sinergia | Kab. Madiun – Aroma lembap memenuhi sebuah kumbung sederhana di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Dari rak-rak bambu yang tersusun rapat, rentetan jamur tiram berwarna putih bersih menggantung rimbun. Setiap pagi, sebelum matahari naik, Ajib Rahmatullah (29) dan rekannya Arfian menyusuri lorong-lorong kumbung itu sambil mengecek satu per satu baglog seperti sedang merawat tanaman kesayangannya.
Musim hujan bukan ancaman, melainkan berkah. Ketika petani lain sibuk mengantisipasi hujan deras, ia justru menikmati periode paling subur dalam budidaya jamur tiram. “Musim hujan ini musim panen cuan,” katanya sambil tersenyum kecil, Minggu (16/11/2025).
“Jamurnya bisa mengembang besar dan maksimal,”imbuhnya
Perjalanan usaha Ajib sebenarnya dimulai dari rasa penasaran. Pada 2023, ia mencoba membudidayakan jamur tiram sebagai hobi dengan hanya 2.000 baglog di sebuah kumbung berukuran 6 x 10 meter. Tidak ada rencana besar saat itu, hanya keinginan bereksperimen.
Namun jamur yang tumbuh subur, ditambah permintaan pasar yang cepat meningkat mengubah arah hidupnya. Dua tahun berjalan, ia kini merawat 20 ribu baglog dengan luas lahan 6 X 50 meter, ditemani rekannya, Arfian. Kumbungnya yang dulu sepi kini tak pernah kosong dari aktivitas, panen pagi, pengepakan, hingga pembeli yang keluar-masuk membawa karung jamur segar.
“Produksinya disini terus meningkat. Tapi saya lihat permintaan pasar itu tinggi. Sekarang aja permintaan sampai 50 kilogram per hari. Kalau saya baru bisa 20-30 kilogram. Harga juga itu antara Rp. 16.000-Rp. 20.000 per kilogram,” terang Ajib.
Sebagian besar hasil panen disetor ke toko-toko sayur di Madiun. Tetapi banyak juga pembeli yang memilih datang langsung. Salah satunya, Muhammad Ilham Abdillah, yang rutin membeli jamur tiram untuk usaha jamur crispy. “Beli langsung itu fresh banget,” katanya. “Bisa tahan sampai tiga hari. Kalau masuk freezer bisa seminggu,” pungkas Ilham.
Untuk memastikan jamur tumbuh ideal, Ajib memasang sistem sprayer otomatis yang bekerja setiap pagi dan sore. Baglog media tanam dari serbuk gergaji, dedak, dan bahan organik lain harus rutin disiram agar suhu ruangan tetap lembap. Cara kerja ini sederhana, tapi menjadi kunci keberhasilan ribuan jamur tiram di kumbungnya.
“Banyak pelajar dari anak-anak yang kesini unyuk belajar. Bisa langsung melihat jamur yang tumbuh, menyusun baglog sampai panen,” ucap Ajib.
Pengalaman dua tahun terakhir membuat Ajib hafal betul pola produksi. Musim hujan berarti ukuran jamur lebih besar, panen lebih sering, dan pendapatan yang stabil. Sebaliknya, musim kemarau adalah masa yang menuntut kesabaran ekstra. “Yang penting dirawat rutin, kelembapan dijaga. Kalau itu terpenuhi, jamur pasti tumbuh,” ucapnya. (Tov/Krs)