Selasa, 20 Okt 2026
Trending Tags

Petani Magetan Keluhkan Pupuk Subsidi Masih Mahal, Diduga Ada “Kreasi Harga” di Kelompok Tani

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
  • visibility 299
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Tumpukan pupuk subsidi yang diduga diakali oleh sebagian kelompok tani (poktan), Foto : Kusnanto – Sinergia

Sinergia | Magetan – Kebijakan pemerintah yang menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sejak 22 Oktober 2025 seharusnya menjadi angin segar bagi para petani. Namun di lapangan, realitas justru berbanding terbalik. Di sejumlah wilayah Kabupaten Magetan, harga pupuk masih melambung. Petani pun mengeluh belum dapat merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.

Alih-alih menurun, harga pupuk bersubsidi justru diduga diakali oleh sebagian kelompok tani (poktan) dengan berbagai alasan tambahan seperti ongkos angkut, biaya sewa kendaraan, hingga “biaya manajemen”. Akibatnya, pupuk yang seharusnya menjadi hak petani malah diperlakukan layaknya barang dagangan toko modern dan lengkap dengan mark up harga.

“Katanya pupuk sudah turun harga, tapi tetap saja mahal. Dulu sebelum turun dijual Rp150 ribu per sak, sekarang paling rendah Rp135 ribu. Selisihnya memang turun, tapi tetap memberatkan,” keluh seorang petani asal Kecamatan Parang.

Padahal, berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 1117/Kpts/SR.310/M/10/2025, HET pupuk bersubsidi ditetapkan jauh lebih rendah:

• Urea: Rp90.000 per sak (50 kg)

• NPK Phonska: Rp92.000 per sak (50 kg)

• NPK Kakao: Rp132.000 per sak (50 kg)

• ZA: Rp68.000 per sak (50 kg)

• Organik Petroganik: Rp25.600 per sak (40 kg)

Namun, di tingkat desa, harga itu tak lagi berlaku. Petani mengaku tak punya pilihan selain membeli dari poktan yang kini menguasai stok pupuk. “Yang bersubsidi pun rasanya seperti beli versi premium,” ujar salah satu petani di Kecamatan Lembeyan.

Di wilayah Parang, Lembeyan, hingga Kawedanan, sejumlah poktan kini tampak berubah fungsi. Salah satunya di Desa Ngaglik, Parang. Dengan 250 anggota dan jatah 36 ton pupuk per tahun, kelompok tersebut menjual pupuk Urea dan Phonska dengan harga rata-rata Rp135 ribu per sak.

Alasan mereka klasik yakni ongkos kirim, biaya operasional, dan sewa transportasi. Namun bagi petani, selisih harga hingga Rp. 40 ribu per sak dianggap tak masuk akal.

“Kalau selisihnya cuma sedikit, mungkin wajar. Tapi kalau sampai puluhan ribu, itu bukan ongkos angkut, itu ongkos untung,” sindir seorang petani.

Kondisi ini membuat solidaritas yang dulu menjadi dasar terbentuknya poktan kini berubah menjadi hubungan jual-beli. Petani menjadi pembeli, pengurus poktan menjadi pedagang.

Sejumlah petani juga mulai menyoroti praktik tidak transparan dalam pembagian pupuk dan bantuan pertanian lainnya. Bahkan, ada dugaan bantuan Pokok Pikiran (Pokir) legislatif hanya berhenti di meja pengurus.

“Banyak yang nggak tahu kalau kelompoknya dapat bantuan. Semua ditutup-tutupi,” ungkap seorang petani di Parang.

Lebih jauh, beredar kabar adanya permainan antara oknum pengurus poktan dengan pegawai Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat. Distribusi pupuk disebut-sebut dikondisikan agar dapat memberikan keuntungan bagi pihak tertentu.

Jika dugaan itu benar, maka program subsidi ini bukan lagi soal membantu petani, tetapi membentuk relasi ekonomi baru antara pengurus, oknum, dan petani yang terpinggirkan.

Para petani kini menuntut dua hal sederhana, yaitu keadilan dan keterbukaan. Mereka mendesak agar aparat segera memeriksa poktan yang menaikkan harga pupuk bersubsidi dan memindahkan pegawai BPP yang diduga terlibat dalam praktik curang.

Kebijakan pemerintah dengan menurunkan HET pupuk seharusnya menghadirkan senyum di wajah petani. Namun faktanya, di lapangan, pupuk murah itu hanya nyata di dalam brosur dan pemberitaan resmi.

“Kalau kios resmi bisa jual sesuai HET tapi poktan malah menambah harga, berarti kebijakan ini cuma jadi pajangan,” tegas Bini, petani asal Parang.

Kini, pupuk bersubsidi di Magetan seperti ilusi: tercatat di data, tapi tak terasa di sawah. Jika tidak segera diawasi, kebijakan ini berpotensi menjadi ladang baru—bukan untuk menanam padi, melainkan untuk menanam keuntungan pribadi.(Kusn/Krs)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sikap Tenang Gus Wahid Hadapi Potensi PAW oleh PKB Magetan

    Sikap Tenang Gus Wahid Hadapi Potensi PAW oleh PKB Magetan

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Suhu politik internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Magetan meningkat setelah beredarnya surat resmi Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap anggota DPRD Magetan, Nur Wahid atau yang akrab disapa Gus Wahid. Langkah politik DPC PKB tersebut memunculkan berbagai spekulasi, mengingat nama Gus Wahid dikenal sebagai tokoh berpengaruh di wilayah timur Magetan. Ditemui di […]

    Bagikan
  • Diterjang Longsor, Enam Warga Desa Depok Trenggalek Hilang

    Diterjang Longsor, Enam Warga Desa Depok Trenggalek Hilang

    • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Sinergia | Trenggalek – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Senin (19/5/2025) sore, memicu bencana tanah longsor di Desa Depok, Kecamatan Bendungan. Akibat kejadian ini, enam warga dilaporkan hilang setelah tertimbun material longsor. Proses evakuasi korban masih berlangsung hingga Selasa pagi (20/5/2025). Namun, upaya pencarian menghadapi kendala serius. Selain akses jalan […]

    Bagikan
  • SDN Berkebutuhan Khusus Butuh Dermawan Perbaiki Gedung Sekolah Ambrol

    SDN Berkebutuhan Khusus Butuh Dermawan Perbaiki Gedung Sekolah Ambrol

    • calendar_month Sabtu, 22 Mar 2025
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Di saat Negara tidak hadir, maka uluran tangan para dermawan sangat ditunggu. Kalimat ini dirasa cukup tepat menggambarkan kondisi SDN Sukosari, Kec. Kartoharjo, Kota Madiun yang rusak parahnamun tidak kunjung mendapat perbaikan. Sekolah ini dihuni 30 murid berkebutuhan khusus. Pelajar yang sekolah di SDN Sukosari, merasa was-was. Mereka terpaksa belajar […]

    Bagikan
  • ASN Kecamatan Barat Jadi Korban Kecelakaan Maut KA Malioboro Ekspres di Magetan

    ASN Kecamatan Barat Jadi Korban Kecelakaan Maut KA Malioboro Ekspres di Magetan

    • calendar_month Senin, 19 Mei 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Magetan – Kecelakaan tragis terjadi di perlintasan kereta api resmi dekat Stasiun Magetan, Jawa Timur, Senin (19/05/2025) siang. Sebuah rangkaian kereta api Malioboro Ekspres menabrak tujuh sepeda motor yang tengah melintas, menyebabkan empat orang tewas di lokasi. Salah satu korban yang telah teridentifikasi adalah Totok Hermanto (51), seorang aparatur sipil negara (ASN) […]

    Bagikan
  • Belum Ada Kantor Haji di Ponorogo, Pelayanan Tetap di Bawah Kemenag

    Belum Ada Kantor Haji di Ponorogo, Pelayanan Tetap di Bawah Kemenag

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Meski Presiden Prabowo Subianto telah melantik Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan sebagai Menteri Haji dan Umrah pada Senin (08/09/2025) lalu, urusan penyelenggaraan haji di Ponorogo hingga kini masih sepenuhnya ditangani oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag). Kepala Kantor Kemenag Ponorogo, Nurul Huda, menegaskan pelayanan haji tahun 2026 tetap berjalan normal di […]

    Bagikan
  • Ini Jawaban Wali Kota Madiun atas PU Fraksi DPRD terkait LKPJ 2024

    Ini Jawaban Wali Kota Madiun atas PU Fraksi DPRD terkait LKPJ 2024

    • calendar_month Jumat, 23 Mei 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – DPRD Kota Madiun kembali menggelar rapat paripurna terkait Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kota Madiun tahun 2024. Agenda kali ini, penyampaian jawaban Wali Kota Madiun atas Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD Kota Madiun pada Jumat (23/05/2025). Legislatif menyoroti terkait tingginya piutang daerah maupuan sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) 2024. Diketahui, piutang pendapatan […]

    Bagikan
expand_less