Siswa SMP di Ngawi Nekat Bikin Mercon, Ibu Panggil Damkar untuk Beri Pembinaan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 21
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Seorang siswa kelas VII SMP Negeri 1 Paron di Kabupaten Ngawi menjadi perhatian publik setelah diketahui enggan berangkat sekolah dan justru sibuk meracik petasan di rumahnya. Aksi berbahaya itu membuat sang ibu panik dan meminta bantuan petugas pemadam kebakaran (Damkar) untuk memberikan pembinaan pada Rabu (11/3/2026) pagi.
Peristiwa tersebut terekam dalam video milik petugas Damkar. Dalam rekaman itu tampak petugas mendatangi rumah keluarga tersebut di Desa Jeblogan, Kecamatan Paron. Mereka memberikan edukasi kepada bocah berusia 13 tahun itu tentang risiko fatal dari meracik bahan peledak serta pentingnya mengikuti pendidikan formal.
Sang ibu, Darwati (48), mengaku sudah kewalahan menghadapi perilaku anaknya, Rehan Zaki Alrahmad. Ia mengatakan Rehan belakangan kerap membangkang dan menolak berangkat sekolah, bahkan lebih memilih membuat mercon di dalam rumah. Darwati menuturkan bahwa kekhawatirannya memuncak karena aktivitas tersebut sangat berbahaya.
“Awalnya saya kesal karena anak tidak mau sekolah dan malah bikin petasan. Karena takut terjadi sesuatu, saya panggil Damkar supaya anak saya dapat pengarahan dan sadar bahwa itu berbahaya,” ujarnya.
Petugas Damkar Kabupaten Ngawi memberikan nasihat dan berupaya membujuk Rehan agar berhenti membuat petasan. Bocah itu mengaku seluruh bahan dan gulungan kertas untuk mercon telah ia buang ke sumur pada pagi hari. Namun, ia tidak menjelaskan asal-usul bahan tersebut.
“Begitu mendapat laporan, kami datang untuk memberi nasihat soal bahaya mercon dan pentingnya sekolah. Bahan mercon yang sempat dibuat juga sudah dibuang oleh anak tersebut,” jelasnya.
Tak hanya Damkar, aparat dari Polsek Paron turut mendatangi rumah tersebut untuk memastikan tidak ada lagi bahan baku petasan dan memberikan pembinaan tambahan. Setelah mendapat pengarahan dari berbagai pihak, Rehan akhirnya berjanji akan kembali bersekolah dan tidak lagi membuat petasan. Petugas pun meninggalkan lokasi setelah memastikan situasi aman.
Kasus ini menjadi pengingat bagi orang tua dan masyarakat bahwa aktivitas membuat bahan peledak, seperti mercon, bukan hanya melanggar aturan tetapi juga sangat berisiko menyebabkan luka hingga kebakaran. Pendampingan dan komunikasi antara orang tua, sekolah, serta pihak berwenang menjadi penting untuk mencegah kejadian serupa.(Kus).
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Kris/Byg







