
Sinergia | Magetan – Sebuah talut senilai Rp. 190 juta di Desa Nitikan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, ambrol setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada akhir pekan lalu. Bangunan yang masih dalam tahap pengerjaan itu runtuh sebelum sempat melalui pemeriksaan P-1. Hal itu menimbulkan kekhawatiran terutama bagi petani yang bergantung pada aliran irigasi di kawasan tersebut.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Magetan, Yuli K. Iswahyudi, menegaskan bahwa kerusakan terjadi saat konstruksi belum tuntas. Karena itu, tanggung jawab penuh dalam perbaikan tetap berada di pihak pelaksana.
“Total anggarannya sekitar Rp. 190 juta. Pekerjaan ini awalnya hanya perbaikan saluran, tetapi atas permintaan warga kami bangun talut,” kata Yuli saat dikonfirmasi, Senin (08/12/2025).
Menurut Yuli, runtuhnya talut dipicu curah hujan tinggi. Air dari jalan mengalir deras menuju lokasi karena saluran drainase di sisi kanan dan kiri tidak berfungsi. “Semua aliran air dari jalan masuk ke titik itu. Saluran drainasenya ditutup warga, saya kurang tahu penyebabnya. Akibatnya, arus air menggerus bangunan talut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa fondasi talut belum tertutup tanah sepenuhnya, sehingga struktur menjadi rentan ketika diterjang hujan ekstrem. Proyek ini dikerjakan oleh CV Terabima dan diawasi oleh Pandega. Yuli memastikan bahwa hingga saat ini Dinas PUPR belum mengeluarkan pembayaran karena progres pekerjaan belum mencapai tahap P-1.
“Belum ada pembayaran sama sekali. Kontraktor sudah mengetahui kerusakannya dan siap melakukan perbaikan,” ujarnya.
Ambrolnya talut berdampak langsung pada aliran irigasi. Petani setempat mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air, baik untuk persiapan tanam maupun kebutuhan perawatan tanaman yang sudah terlanjur ditanam. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu gagal panen apabila berlangsung lama.
Yuli mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan juru pengairan untuk menyesuaikan pengaturan pintu air selama masa perbaikan. “Jika aliran harus ditutup sementara, HIPPA akan kami beri informasi tentang durasinya. Pelayanan air untuk petani tetap kami prioritaskan,” tutur Yuli. Ia menyebutkan bahwa buka–tutup aliran air bahkan sudah dilakukan pada malam hari demi memenuhi kebutuhan petani.
Meski kerusakan dipicu faktor alam, Dinas PUPR menilai perbaikan harus segera dipercepat mengingat cuaca yang masih tidak menentu. “Dengan kondisi hujan seperti sekarang, penyelesaiannya perlu diprioritaskan. Pemeriksaan formal juga belum bisa dilakukan sebelum tahap P-1 selesai,” tegas Yuli.
Dinas PUPR Magetan memastikan pengawasan akan diperketat hingga seluruh perbaikan rampung dan fungsi saluran irigasi kembali normal. (Nan/Krs)