Tembus Jalan Terjal Lereng Wilis, Motor Boks Jadi Andalan Distribusi MBG di Batok Gemarang
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 66
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Jalan sempit, tanjakan terjal, dan jalur berkelok di lereng Gunung Wilis tak menghalangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Miftahul Ulum di Desa Batok, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, menyalurkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiga sepeda motor boks menjadi andalan untuk mengantarkan makanan kepada penerima manfaat di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.
Setiap hari, petugas mengirimkan paket MBG kepada kelompok penerima manfaat (KPM), termasuk anak sekolah, balita, ibu menyusui, dan lansia. Kondisi jalan yang rusak, sempit, serta memiliki medan naik-turun membuat sepeda motor lebih efektif digunakan untuk menjangkau sejumlah titik distribusi.
Setiap motor boks mampu mengangkut sekitar 80 paket makanan dalam sekali perjalanan. Rata-rata, petugas melakukan dua kali perjalanan untuk memastikan distribusi menjangkau wilayah sasaran.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh warga. Warti, salah satu penerima manfaat, mengaku terbantu karena makanan diantarkan hingga ke rumah meski lokasinya jauh. Selain membantu menghemat pengeluaran keluarga, program tersebut juga meringankan pekerjaan rumah tangga.

“Alhamdulillah bisa diantar sampai rumah meski jauh dan membantu meringankan, memasak agak siang sekarang,” ujar Warti Selasa (13/10/2026).
Hal yang sama diungkapkan oleh Listiana, penerima manfaat lainnya, mengatakan menu MBG juga dinantikan anak-anak, terutama ketika menyajikan makanan favorit mereka.
“Rata-rata menu yang menjadi favorit anak-anak di wilayah terpencil biasanya ikan, telur, dan ayam. Program ini sangat membantu,” ucap Listiana.
Sementara itu Kepala SPPG Miftahul Ulum Gemarang, Muhammad Nurhuda, mengatakan pihaknya melayani 2.597 penerima manfaat yang tersebar di 54 kelompok penerima manfaat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 381 penerima manfaat di 14 sekolah dan 195 penerima manfaat di delapan titik posyandu di Desa Batok dilayani menggunakan sepeda motor boks. Sementara itu, penerima manfaat lainnya dijangkau dengan dua unit mobil boks.

“Seperti wajarnya di pegunungan, apalagi di desa, jalannya naik-turun dan berkelok-kelok. Ada juga wilayah tertentu yang jalannya rusak dan sempit. Jadi, beberapa wilayah KPM tidak bisa dilewati mobil sehingga lebih efisien menggunakan sepeda motor,” kata Nurhuda.
Untuk menjaga kelancaran distribusi, SPPG Miftahul Ulum menerapkan prosedur operasional standar (SOP), termasuk memeriksa kondisi kendaraan sebelum petugas berangkat. Pemeriksaan meliputi fungsi rem, ketersediaan bahan bakar, dan kebersihan kendaraan.
“Di area pegunungan, kesiapan kendaraan sangat penting karena jalurnya cenderung ekstrem dan berisiko menimbulkan kecelakaan jika kendaraan tidak siap,” jelas Nurhuda.
Ia menegaskan, pihaknya berupaya memberikan pelayanan terbaik agar program MBG dapat menjangkau masyarakat hingga pelosok desa. Antusiasme warga menjadi motivasi bagi petugas untuk terus menjalankan distribusi meski menghadapi keterbatasan akses.
“Saya pernah ke lapangan juga dan senang sekali melihat antusiasme masyarakat. Kalau dibilang butuh, mereka memang sangat membutuhkan. Karena tempatnya terpencil, mereka sangat mengharapkan program MBG ini,” tutur Nurhuda.
Di Desa Batok, sepeda motor boks menjadi solusi untuk mengatasi tantangan geografis dalam distribusi MBG. Lebih dari sekadar mengantarkan makanan, kendaraan tersebut membantu memastikan program pemenuhan gizi menjangkau warga yang tinggal jauh dari pusat permukiman. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krs/Diez





