Tradisi Lebaran yang Bikin Kangen! Dari Sungkeman Haru hingga Anak-anak Berburu “Rezeki Dadakan”
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 29
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Suasana hangat dan penuh haru mewarnai perayaan Hari Raya Idul Fitri di berbagai daerah, termasuk di Desa Gontor, Kecamatan Gontor, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tradisi mudik atau “mulih disik” kembali menjadi momen yang paling dinanti, ketika para perantau pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga.
Usai melaksanakan salat Idul Fitri, tradisi sungkeman menjadi pemandangan yang tak terpisahkan. Satu per satu anggota keluarga bersimpuh, memohon maaf kepada orang tua dan sanak saudara. Tangis haru pun pecah, mencairkan jarak yang sempat terbentang karena kesibukan dan perantauan.
Seperti yang terlihat di keluarga besar almarhum Mbah Supeno di Desa Gontor. Siang itu, halaman rumah dipenuhi anggota keluarga lintas generasi. Mereka saling berjabat tangan, berpelukan, bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata saat mengungkapkan permohonan maaf.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi simbol kuatnya nilai kekeluargaan, khususnya di kalangan masyarakat Jawa. Momen Lebaran dimanfaatkan untuk mempererat kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang.
Setelah prosesi sungkeman usai, suasana berubah menjadi lebih riang. Anak-anak mulai “berburu” Tunjangan Hari Raya (THR) dari para kerabat yang telah bekerja atau merantau. Dengan tertib, puluhan anak terlihat mengantre untuk menerima uang saku dalam amplop.
Di keluarga tersebut, sekitar 40 anak ikut serta dalam tradisi bagi-bagi THR. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang berhasil mengumpulkan uang hingga ratusan ribu rupiah, bahkan mencapai satu juta rupiah.
Salah satu anak, Rafasa Zidane Raharjo, mengaku senang mengikuti tradisi tersebut. Ia mengungkapkan akan menggunakan uang yang didapat untuk membeli sepatu baru.
Sementara itu, sesepuh keluarga, Setyo Budiyono, menjelaskan bahwa tradisi bagi-bagi THR atau dalam istilah Jawa disebut “sangu” telah berlangsung turun-temurun sejak generasi terdahulu. Tradisi ini tidak hanya sekadar berbagi rezeki, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam mempererat rasa persatuan dan kekeluargaan.
“Kegiatan ini sudah dilakukan sejak zaman mbah-mbah dulu. Tujuannya untuk menumbuhkan rasa memiliki dan memperkuat keguyuban keluarga,” ujarnya.
Meski sebagian perantau hanya memiliki waktu singkat untuk pulang kampung, momen Lebaran tetap dimanfaatkan secara maksimal untuk berkumpul bersama keluarga besar. Tradisi sungkeman dan berbagi THR pun menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan, sekaligus wujud rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.
Lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga tentang kembali ke akar—merajut kebersamaan, mempererat silaturahmi, dan menciptakan kenangan yang akan selalu dirindukan. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez






