BBPOM Surabaya Sidak Takjil di Caruban, Dua Sampel Kerupuk Diduga Mengandung Boraks
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 40
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya menemukan dua sampel kerupuk yang diduga mengandung bahan berbahaya boraks saat melakukan pemeriksaan makanan berbuka puasa di Kabupaten Madiun, Kamis (5/3/2026). Pemeriksaan dilakukan di kawasan Alun-Alun Caruban, tepatnya di sepanjang Jalan MT Haryono, Kecamatan Mejayan, yang menjadi salah satu pusat penjualan takjil selama Ramadan.
Kepala BBPOM Surabaya Yudi Noviandi mengatakan petugas mengambil sekitar 30 jenis sampel makanan dan minuman dari pedagang untuk dilakukan uji cepat di lokasi. Sampel tersebut mencakup berbagai produk olahan, seperti martabak, dimsum, bakso, tahu, pentol, sempol, sushi, botok, sosis ikan, hingga minuman cincau dan aneka sate.
“Pengujian ini untuk memastikan tidak ada penggunaan bahan berbahaya seperti formalin, boraks, maupun pewarna yang dilarang dalam pangan,” kata Yudi.
Dari hasil pemeriksaan awal, dua sampel kerupuk menunjukkan reaksi yang mengindikasikan kemungkinan adanya kandungan boraks. Namun temuan tersebut masih harus dipastikan melalui pengujian lanjutan di laboratorium.
“Untuk jenis makanan lain hasilnya aman. Sementara dua sampel kerupuk yang reaktif akan kami tindak lanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
BBPOM Surabaya selanjutnya akan menyampaikan hasil temuan tersebut kepada Bupati Madiun serta berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Yudi mengingatkan para pelaku usaha agar tidak menggunakan bahan kimia berbahaya dalam proses produksi makanan. Ia menjelaskan boraks kerap digunakan untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal atau renyah, meski penggunaannya dilarang karena berisiko bagi kesehatan.

“Jika dikonsumsi terus-menerus, boraks dapat menimbulkan gangguan pada organ tubuh, salah satunya kerusakan ginjal,” katanya.
Ia juga mendorong pedagang menggunakan bahan tambahan pangan yang aman dan telah diizinkan karena saat ini sudah tersedia alternatif yang dapat diperoleh di pasaran.
Sementara itu, salah satu pedagang camilan di lokasi, Sri Utami, mengaku mendukung langkah pengawasan tersebut. Ia menyebut sejumlah dagangannya seperti wader, baby crab, usus, kulit ayam, dan jamur turut diambil sebagai sampel oleh petugas. “Tidak ada masalah, justru kami menyambut baik pemeriksaan ini. Kalau dari dagangan saya pribadi, alhamdulillah aman,” ujarnya. (tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez


