Dinkes Ngawi Temukan 19 Suspek Campak, Hasil Laboratorium Masih Ditunggu
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi mencatat sebanyak 19 kasus suspek campak selama periode Januari hingga awal April 2026. Hingga kini, belum ada kasus yang dinyatakan positif setelah melalui pemeriksaan laboratorium.
Kasus-kasus tersebut terdeteksi dari hasil pemantauan di berbagai fasilitas kesehatan (Faskes), khususnya pada pasien yang mengalami gejala demam dan ruam. Tim Kerja Imunisasi Surveilans Dinkes Ngawi, Daut Setyowahono, menyebut seluruh temuan masih berstatus dugaan dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.
“Sejauh ini belum ada hasil laboratorium yang menyatakan positif campak. Namun dari laporan seluruh faskes, kami mencatat ada 19 kasus yang masuk kategori suspek,” jelas Daut, Selasa (7/4/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 sampel telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan. Sementara satu sampel lainnya masih berada di Dinkes Ngawi dan akan segera menyusul untuk diuji.
Daut menambahkan, pengambilan spesimen dilakukan sebagai langkah kewaspadaan dini guna memastikan setiap dugaan kasus dapat terdeteksi secara akurat.
“Kami lakukan pengambilan sampel sebagai bentuk deteksi dini, sehingga jika memang ada kasus positif bisa segera ditangani dan tidak meluas,” ujarnya.
Dinkes Ngawi juga terus memantau perkembangan kasus ini dengan mengacu pada data tahun sebelumnya. Pada 2025, tercatat dua kasus campak terkonfirmasi dari total 50 suspek yang ditemukan.
Sebagai langkah pencegahan, program imunisasi terus diintensifkan, termasuk melalui imunisasi kejar atau catch up campaign (CUC) yang menyasar anak-anak dengan status imunisasi belum lengkap.
“Kalau setelah skrining diketahui imunisasinya belum lengkap, maka langsung kami lakukan imunisasi kejar. Ini penting untuk menekan risiko penularan di masyarakat,” terang Daut.
Ia juga menekankan bahwa anak yang telah mendapatkan imunisasi lengkap memiliki perlindungan lebih baik terhadap penyakit campak.
“Anak yang imunisasinya lengkap umumnya lebih terlindungi. Kalaupun terpapar, gejalanya cenderung lebih ringan dibanding yang belum imunisasi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Dinkes Ngawi masih menemukan adanya penolakan imunisasi dari sebagian kecil masyarakat. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kondisi anak yang sedang sakit hingga alasan keyakinan orang tua.
Meski demikian, upaya edukasi terus dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan pendekatan langsung ke masyarakat.
“Penolakan memang masih ada, tapi jumlahnya kecil. Kami terus melakukan sosialisasi dan pendekatan agar masyarakat semakin paham pentingnya imunisasi,” pungkasnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez






