Tiga Pilar di Madiun Siagakan Personel Hadapi Ancaman Karhutla Bareng Masyarakat Tepian Hutan
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat seiring musim kemarau. Sejumlah anggota perhutani bersama masyarakat tepian hutan dan dibantu aparat TNI/POLRI berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. Upaya ini menjadi bagian dari simulasi terkait penanganan deteksi dan pelaporan titik api, koordinasi antar petugas terhadap Karhutla di Hutan wilayah Perhutani KPH Madiun dan Lawu Ds.
Fokus utama kesiapsiagaan kali ini yakni pada pemadaman api untuk mencegah api merambat ke kawasan hutan yang lebih luas. Untuk mengantisipasi kebakaran meluas, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun dan KPH Lawu DS bersama TNI, Polri, serta unsur Forkopimcam Kare dan Wungu menggelar apel sinergitas dan simulasi pengendalian karhutla, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Pos Kucur, Petak 232 A-2, RPH Kuwiran, BKPH Dungus, Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Sebanyak 85 personel dilibatkan dalam simulasi kesiapsiagaan tersebut. Dalam simulasi, petugas memperagakan tahapan penanganan ketika terjadi kebakaran hutan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel dan peralatan yang dimiliki masing-masing unsur. Kolaborasi antara TNI, Polri, dan Perhutani dinilai penting untuk memastikan respons penanganan dapat dilakukan secara cepat ketika kebakaran benar-benar terjadi.
“Apel dan simulasi ini menjadi langkah awal untuk menyamakan pemahaman seluruh personel mengenai prosedur penanganan karhutla,” ujar Kapolsek Kare AKP Gunawan.

Selain kesiapan petugas, Gunawan menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah kebakaran. Warga diminta tidak membakar hutan maupun lahan, termasuk saat membuka atau membersihkan lahan.
Sementara itu, Asper BKPH Dungus Rudi Setiawan menyebut ada tiga hal yang menjadi fokus dalam kesiapsiagaan karhutla. Pertama, memperkuat koordinasi dan kolaborasi antarinstansi. Kedua, mengutamakan deteksi dini dan pencegahan. Ketiga, memastikan personel serta peralatan selalu dalam kondisi siap digunakan.
“Kesiapsiagaan ini semakin penting karena sejumlah kawasan hutan di wilayah Madiun dan sekitarnya memiliki potensi karhutla selama musim kemarau. Sebelumnya, BPBD Magetan juga memetakan kawasan hutan yang rawan kebakaran seiring memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026,” jelas Rudi Setiawan.
Melalui simulasi ini, seluruh unsur yang terlibat diharapkan mampu mempercepat respons ketika muncul titik api. Upaya pencegahan dan penanganan secara bersama-sama diharapkan dapat menekan risiko karhutla sekaligus melindungi kawasan hutan dan masyarakat di Kabupaten Madiun.(Tov).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Byg



