Hadapi Kemarau Panjang, DKPP Madiun Klaim Stok Beras Surplus 3.357 Ton
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Persediaan beras di Kabupaten Madiun masih dalam kondisi surplus memasuki September 2026. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun mencatat stok beras per 30 Agustus 2026 mencapai 4.897 ton.
Jumlah tersebut bahkan belum memperhitungkan hasil panen padi petani yang berlangsung sepanjang Agustus. Dengan luas lahan baku sawah sekitar 33 ribu hektare, hasil panen di sejumlah wilayah masih menjadi penopang ketersediaan beras.
Kepala DKPP Kabupaten Madiun, Paryoto, mengatakan kebutuhan beras masyarakat rata-rata berada di kisaran 1.540 ton per minggu. Dengan stok yang tercatat, neraca beras Kabupaten Madiun masih surplus sekitar 3.357 ton.
“Jadi stok beras untuk saat ini sesuai laporan yang di-input, insyaallah Kabupaten Madiun ini surplus. Di data kami, per tanggal 30 Agustus ini ketersediaan kami ada 4.897 ton,” kata Paryoto, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, stok tersebut masih akan bertambah jika data hasil panen padi selama Agustus telah terakumulasi. Saat ini, data potensi panen masih berada di Dinas Pertanian.
“Sedangkan kebutuhan kami per minggu ini hanya sekitar 1.540 ton, artinya neraca mingguan masih terdapat surplus 3.357 ton. Ini belum ditambah masa panen pada bulan Agustus secara spot-spot, karena yang mengetahui data potensi berapa panen ini ada di Dinas Pertanian,” ujarnya.
Paryoto memastikan ketersediaan beras Kabupaten Madiun masih cukup untuk menghadapi kebutuhan dalam beberapa bulan ke depan, meski musim kemarau diperkirakan berlangsung panjang.
Ia mengakui tidak seluruh lahan baku sawah seluas sekitar 33 ribu hektare ditanami padi. Kondisi kemarau membuat sebagian petani memilih tanaman lain di sejumlah wilayah.
Namun, menurutnya, stok beras yang tersimpan, termasuk di gudang Bulog, masih mencukupi untuk menjaga kebutuhan masyarakat.
“Saya rasa masih cukup. Kalau menurut data yang ada, kita punya lahan baku sawah sekitar 33.000 hektare, ini tidak semuanya ditanami padi, memang kita akui. Apalagi dengan adanya kemarau yang diramalkan panjang, ada beberapa daerah yang ditanami di luar tanaman padi,” jelasnya.
Paryoto menyebut pola tanam dan panen di Kabupaten Madiun saat ini juga tidak berlangsung secara serentak. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat pasokan beras tetap tersedia di tengah perubahan musim.
“Jadi tentu ketersediaan kami, ada yang di gudang Bulog, ini masih sangat mencukupi, jadi kita tidak perlu khawatir. Apalagi musim tanam dan musim panen yang ada di Kabupaten Madiun ini rata-rata masih tidak semacam dulu, panen secara serentak atau tanam semacam serentak,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





