Bangunan Belum Rampung, Siswa Sekolah Rakyat Madiun Belum Bisa Tinggal di Asrama
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 23
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Madiun resmi dimulai pada Kamis (31/7/2026). Namun, ratusan siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA belum dapat menjalani pendidikan berasrama karena pembangunan sejumlah fasilitas utama di kompleks sekolah masih dalam tahap penyelesaian.
Pantauan di lokasi menunjukkan beberapa bangunan di kawasan Sekolah Rakyat seluas sekitar lima hektare di Kelurahan Nglames, Kabupaten Madiun, masih menjalani pekerjaan akhir (finishing). Sejumlah sarana pendukung, terutama toilet, kamar mandi asrama, serta beberapa fasilitas penunjang lainnya, belum sepenuhnya siap digunakan.
Akibat kondisi tersebut, pelaksanaan MPLS hanya dilakukan secara terbatas. Para siswa belum bisa menempati asrama dan untuk sementara dipulangkan hingga seluruh fasilitas dinyatakan layak digunakan.
Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial RI, Rachmat Koesnadi, mengatakan secara umum bangunan utama telah berdiri dan ruang kelas sudah dapat difungsikan. Namun, penyelesaian fasilitas sanitasi masih menjadi pekerjaan yang harus dituntaskan dalam beberapa hari ke depan.
“Secara prinsip bangunan sudah siap. Yang masih berproses adalah toilet dan kamar mandi di asrama. Mudah-mudahan dalam lima sampai sepuluh hari sudah fungsional sehingga anak-anak bisa mulai menghuni asrama,” ujarnya.

Ia menambahkan, fasilitas penunjang lain seperti kantin juga tinggal menyelesaikan tahap akhir pekerjaan, termasuk pemasangan perlengkapan air dan proses pembersihan area.
Menurut Rachmat, apabila seluruh pekerjaan selesai sesuai target, siswa diperkirakan mulai menempati asrama dan mengikuti kegiatan pembelajaran secara penuh pada kisaran 10 hingga 15 Agustus 2026.
“Targetnya antara tanggal 10 sampai 15 Agustus anak-anak sudah bisa masuk penuh ke asrama. Yang tersisa hanya pekerjaan finishing sehingga kami optimistis bisa segera difungsikan,” katanya.
Sementara itu, jumlah peserta didik yang telah terdaftar mencapai sekitar 360 siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Selain berasal dari Kabupaten Madiun, puluhan siswa dari Kabupaten Ponorogo juga dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi tersebut.
Di sisi lain, proses rekrutmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan masih berlangsung. Seleksi guru telah selesai dilaksanakan dan saat ini menunggu penugasan resmi dari pemerintah.
” Selama masa transisi, kegiatan belajar mengajar didukung oleh guru bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun serta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.” imbuhnya.
Kedepan, Sekolah Rakyat Terintegrasi diproyeksikan memiliki sekitar 50 hingga 70 guru serta tenaga pendukung, termasuk wali asrama dan tenaga kependidikan lainnya.
Rachmat memastikan konsep Sekolah Rakyat memungkinkan proses pembelajaran dilakukan secara bertahap menyesuaikan kesiapan sarana dan prasarana. Karena itu, para siswa untuk sementara dipulangkan dan akan kembali mengikuti MPLS setelah seluruh fasilitas dinyatakan siap digunakan.(Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Krz/Byg




