Jamaah Thariqah Syattariyah di Ponorogo Rayakan Idul Fitri Lebih Awal, Ini Alasannya
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Ratusan jamaah Pondok Pesantren Daarul Islaam Liahlissunnah Waljamaah, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, merayakan Hari Raya Idul Fitri lebih awal pada Kamis (19/3/2026) pagi.
Penetapan 1 Syawal tersebut didasarkan pada metode perhitungan yang digunakan oleh jamaah Thariqah Syattariyah. Mereka diketahui telah lebih dahulu memulai ibadah puasa, sehingga pada Kamis pagi telah genap menjalankan puasa selama 30 hari.
Suasana lebaran sudah terasa sejak pagi hari di lingkungan pondok pesantren. Ratusan jamaah tampak berdatangan ke Masjid Jami’ untuk melaksanakan salat Id berjamaah. Lantunan takbir terdengar dari dalam masjid, meski tidak dikumandangkan melalui pengeras suara keluar.
Menariknya, jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari Ponorogo, melainkan juga dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Kediri, hingga wilayah Jawa Tengah.
Pengasuh Ponpes Daarul Islaam, Kiai Parlan Ahmad Khumaidi, menjelaskan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri ini merupakan hal yang biasa, karena setiap kelompok memiliki metode masing-masing dalam menentukan awal Ramadan.
“Puasa kami dimulai hari Selasa, sehingga sudah genap 30 hari. Jamaah juga datang dari berbagai daerah, seperti Madiun, Kediri, hingga Jawa Tengah,” ujarnya.
Meski telah merayakan Idul Fitri, pihak pondok tetap menjaga toleransi dengan tidak mengumandangkan takbir menggunakan pengeras suara keluar masjid. Hal ini dilakukan untuk menghormati umat Islam lain yang masih menjalankan ibadah puasa.

Sementara itu, pelaksanaan salat Id juga mendapat pengamanan dari aparat kepolisian. Anggota Polsek Sukorejo tampak berjaga di sekitar lokasi guna memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif.
Kapolsek Sukorejo, IPTU Agus Tri Cahyo, mengatakan pihaknya hadir untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menjalankan ibadah.
“Di wilayah kami ada kegiatan salat Id, dan kami dari kepolisian memberikan pengamanan agar masyarakat bisa beribadah dengan aman dan nyaman. Jumlah jamaah sekitar seratus orang di satu pondok pesantren ini,” jelasnya.
Usai melaksanakan salat Id, ratusan jamaah dan santri menggelar doa bersama yang dilanjutkan dengan makan bersama di serambi masjid sebagai bentuk rasa syukur setelah menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez







