Optimalisasi IFP di Sekolah, Dikbud Madiun Dorong Digitalisasi Pembelajaran
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month Kamis, 11 Des 2025
- visibility 28
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kab.Madiun – Upaya digitalisasi pembelajaran di sekolah-sekolah Kabupaten Madiun, Jawa Timur terus didorong pemerintah daerah. Salah satunya melalui optimalisasi penggunaan Interactive Flat Panel (IFP), perangkat layar sentuh digital yang sejak dua tahun terakhir mulai dipasang di sejumlah SMP.
Banyak guru masih menggunakan IFP sebatas sebagai layar presentasi. Padahal, perangkat ini dirancang untuk mendukung pembelajaran interaktif, mulai dari whiteboard digital, mirroring perangkat siswa, hingga integrasi aplikasi pembelajaran seperti GeoGebra, PhET, YouTube Edu, Canva, dan kuis daring interaktif.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun menggelar kegiatan optimalisasi penggunaan IFP, yang berlangsung di Ruang Rapat SMPN 1 Sawahan, Kamis (11/12/2025). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran yang diselenggarakan di Surabaya pada Juni lalu.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dikbud Kabupaten Madiun, Arief Indrokaryoto, mengatakan saat ini terdapat sekitar 53 guru TIK di seluruh SMP negeri di Kabupaten Madiun. Tahun 2025 ini, Pemerintah Pusat melalui Kemendikdasmen menyalurkan 40 unit IFP ke sekolah.
“Harapannya perangkat ini tidak hanya menjadi alat presentasi. Guru harus mampu memanfaatkan IFP untuk membuat pembelajaran lebih interaktif, kolaboratif, dan inovatif,” kata Arief.
Menurutnya, digitalisasi pembelajaran tidak berhenti pada pengadaan perangkat. Penguasaan guru terhadap fitur teknis, aplikasi pendukung, hingga asesmen digital harus menjadi prioritas.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Jiwan selaku salah satu penerima manfaat, Muhammad Sholihuddin, menjelaskan pihaknya menyiapkan mekanisme penggunaan IFP agar bisa dimanfaatkan semua guru. Pasalnya, perangkat IFP di sekolahnya masih terpusat di satu ruang audio.
“Kami akan buat jadwal pemanfaatan untuk seluruh guru. Karena IFP ditempatkan di ruang audio, penggunaannya harus diatur agar semua mapel bisa memanfaatkan,” ujarnya.
Sholihuddin menilai IFP relevan untuk semua mata pelajaran, termasuk PJOK. “Ini inovasi dalam mendesain pembelajaran. Semua mapel bisa memanfaatkan fitur interaktifnya,” imbuhnya.
Dalam kegiatan ini, guru mendapatkan materi mulai dari: pengenalan fitur IFP, penggunaan screen mirroring untuk kolaborasi perangkat siswa, perancangan asesmen digital menggunakan Quizizz, Kahoot, dan Google Form, hingga praktik mengajar dengan memanfaatkan IFP.
Selain itu, peserta juga mempelajari teknis pengamanan perangkat, penyusunan RPP berbasis digital, serta pembuatan bahan ajar interaktif.(Tov/Krs).
- Penulis: Tova Pradana


