
Sinergia | Kab. Magetan – Kepedulian terhadap lingkungan mendorong Doni Eko Hardianto, warga Desa Manjung, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, menciptakan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Lewat alat buatannya sendiri, Doni mampu mengubah tumpukan plastik tak terpakai menjadi solar, minyak tanah, hingga bensin.
Berawal dari keprihatinan melihat sampah plastik yang menumpuk di sekitar rumah warga, Doni tergerak mencari solusi. Ia kemudian merakit alat pirolisis sederhana, reaktor berbahan logam yang digunakan untuk membakar plastik dalam suhu tinggi dan minim oksigen. Hasilnya, uap dari proses pembakaran dialirkan ke dalam tangki kondensasi dan berubah menjadi cairan BBM.
“Awalnya saya prihatin melihat masyarakat membuang sampah sembarangan. Dari situ saya mencari ide untuk mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelas Doni, Sabtu (05/07/2025).
Proses pembakaran dilakukan di dalam tungku pada suhu sekitar 300 derajat Celsius. Uap yang keluar kemudian ditampung dan didinginkan, menghasilkan tiga jenis bahan bakar: minyak tanah, bensin, dan solar. BBM hasil olahan ini sudah digunakan oleh warga sekitar, terutama untuk mengoperasikan mesin diesel penggiling padi dan pompa air, juga mesin pertanian lainnya.
Priyono, salah satu warga, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan inovasi tersebut. Ia bahkan secara sukarela mengumpulkan sampah plastik dari rumahnya untuk diserahkan ke Doni.
“Daripada dibuang sembarangan atau dibakar, lebih baik diberikan ke Pak Doni. Selain lingkungan bersih, hasilnya juga bisa dipakai bersama. Kami biasa pakai solar olahan ini untuk mesin dos padi,” ungkap Priyono.
Sayangnya, hingga kini inovasi Doni belum mendapatkan perhatian atau dukungan dari pemerintah desa maupun daerah. Padahal, selain memberi solusi terhadap persoalan sampah, karyanya juga berpotensi menciptakan kemandirian energi masyarakat.
“Harapannya, kalau ini bisa dikembangkan dan mendapat dukungan, tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tapi juga membuka peluang ekonomi dari sampah plastik yang sebelumnya dianggap tak bernilai,” imbuh Doni.
Di tengah mahalnya harga BBM dan semakin peliknya persoalan sampah plastik, langkah Doni Eko Hardianto menjadi bukti bahwa solusi bisa datang dari desa, dari tangan warga biasa yang punya niat luar biasa.
Kusnanto – Sinergia