Potret Pendidikan di Magetan, Siswa SDN Sumbersawit 3 Magetan Belajar di Teras
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 98
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Keterbatasan sarana prasarana masih menjadi persoalan serius di dunia pendidikan daerah. Hal ini terlihat di SD Negeri Sumbersawit 3, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, di mana puluhan siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di teras sekolah hingga mushola akibat minimnya ruang kelas yang layak.
Kondisi tersebut semakin terasa saat pelaksanaan ujian bagi siswa kelas 6. Ruang kelas yang tersedia diprioritaskan untuk ujian, sehingga siswa dari kelas lain harus dipindahkan ke luar ruangan. Mereka belajar di teras, mushola, bahkan memanfaatkan fasilitas milik warga sekitar dengan kondisi seadanya.
Sejumlah siswa terlihat duduk di lantai tanpa alas memadai saat mengikuti pelajaran. Situasi ini bukan terjadi sesekali, melainkan telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Kalau kelas enam ujian, kami belajar di teras. Kadang juga di mushola atau tempat lain. Tidak ada ruang kelas,” ujar Fahri, salah satu siswa.
Sekolah ini saat ini hanya memiliki tiga ruang kelas untuk menampung seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Keterbatasan ini memaksa pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergantian dan memanfaatkan ruang non-kelas sebagai alternatif.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Sumbersawit 3, Supriyana Mulyanta, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan, selain kekurangan ruang kelas, sejumlah bangunan juga dalam kondisi rusak dan tidak layak digunakan.
“Beberapa ruang sudah dialihfungsikan menjadi ruang guru, ruang kepala sekolah, dan ruang komputer. Sementara ada bangunan yang rusak sehingga tidak bisa dipakai untuk belajar,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerusakan terjadi di beberapa bagian bangunan seperti atap dan plafon. Perbaikan sementara hanya dilakukan secara mandiri oleh pihak sekolah, misalnya dengan mengganti genting yang rusak.
Menurut Supriyana, keterbatasan ini berdampak langsung pada kenyamanan dan efektivitas proses pembelajaran. Meski pihak sekolah berupaya mengatur kegiatan belajar sebaik mungkin, kondisi yang ada dinilai jauh dari ideal.
Pihak sekolah pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya dinas pendidikan, untuk segera melakukan renovasi bangunan sekaligus menambah ruang kelas baru.
“Kami berharap ada pembangunan ruang kelas tambahan agar siswa bisa belajar dengan layak dan aman,” imbuhnya.
Kondisi SDN Sumbersawit 3 menjadi gambaran masih adanya kesenjangan fasilitas pendidikan di sejumlah daerah. Di tengah meningkatnya alokasi anggaran pendidikan setiap tahun, pemerataan pembangunan infrastruktur sekolah dinilai perlu menjadi prioritas agar seluruh siswa mendapatkan hak yang sama atas pendidikan yang layak. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





