Produksi Susu Magetan Merosot, Populasi Sapi Perah Turun Akibat PMK
- account_circle Kusnanto
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Produksi susu sapi perah di Kabupaten Magetan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini berkaitan erat dengan berkurangnya populasi ternak akibat serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih muncul hingga awal 2026. Selain jumlah ternak yang menyusut, sapi yang pernah terpapar PMK pun belum pulih sepenuhnya sehingga produktivitas susu belum kembali seperti sebelum wabah.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan, Nur Haryani, menjelaskan bahwa sebelum PMK menyebar pada 2022, populasi sapi perah mencapai lebih dari seribu ekor dan tersebar di sejumlah kecamatan. Namun kini angkanya tinggal sekitar 700 ekor.
“Sejak wabah PMK merebak pada 2022, jumlah sapi perah kami terus menurun. Dari yang sebelumnya lebih dari seribu ekor, kini yang tersisa hanya sekitar tujuh ratus,” terangnya.
Menurutnya, PMK memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya menyebabkan kematian dan pemotongan paksa, tetapi juga memengaruhi kemampuan produksi dan reproduksi sapi. Ia menegaskan bahwa ternak yang pernah terinfeksi umumnya tidak bisa kembali mencapai performa seperti sebelum sakit.
“Pemulihan produksi susu belum optimal. Ketika PMK menyerang, produksi bahkan bisa turun sampai berhenti total,” jelasnya.

Situasi tersebut semakin berat karena selama proses pengobatan, sapi harus diberi antibiotik. Dalam masa itu, susu tidak boleh dikonsumsi sehingga produksi terhenti sementara.
Memasuki 2026, Disnakkan Magetan mencatat setidaknya 30 sapi kembali terpapar PMK. Untuk menekan penyebaran, pemerintah daerah mengutamakan langkah vaksinasi. Tahun ini, Magetan mendapat pasokan vaksin PMK tahap awal sebanyak 15.000 dosis yang akan segera disebarkan ke lapangan.
Selain vaksinasi, upaya edukasi terus dilakukan. Petugas medis dan paramedis Disnakkan disebut telah menjangkau sekitar 220 desa untuk memberikan pemahaman kepada peternak mengenai ancaman PMK dan langkah pencegahannya.
“Penyuluhan ini penting agar peternak memiliki pengetahuan yang memadai tentang PMK dan upaya pengendaliannya,” tutup Nur Haryani.(Kus/Krs).
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Buyung
