
Sinergia | Kab Madiun – Mantan Bupati Madiun, Muhtarom, bereaksi dengan besar hati ketika mendengar bahwa program Bakti Sosial Terpadu (BST) telah berubah nama menjadi Bhakti Harmoni Madiun Bersahaja.
Bupati Madiun dua periode itu mengaku tidak masalah dengan perubahan nama tersebut. Menurutnya justru yang terpenting adalah substansi dan dampak positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
“Ya tidak ada masalah. Apalah arti sebuah nama, justru yang penting adalah kedekatan seorang pemimpin dengan yang dipimpin,” kata Mbah Tarom, Jumat (16/01/2026)
Ditambahkan, sebuah program nyata harus bisa menyerap aspirasi masyarakat hingga benar-benar dapat tersalurkan dengan baik.
“Pemimpin itu harus cepat merespons dan ditindaklanjuti apa saja yang menjadi aspirasi masyarakat di kabupaten Madiun,” ujar bupati sepuh itu.
Ia juga berharap program Bahana Bersahaja, sebagai pengganti BST, dapat terus meningkatkan kualitas dan efektivitas bantuan sosial kepada masyarakat.
Sekedar mengingatkan, program BST di era Bupati Madiun Muhtarom begitu melekat di benak warga Madiun dan sekitarnya. Bahkan pernah terjadi insiden menggemparkan. Kedekatan Mbah Tarom dengan masyarakat disalah artikan oleh seorang warga.
Alhasil pada malam sarasehan BST di Desa Kincang Wetan Kecamatan Jiwan berubah menjadi peristiwa pidana. Politisi gaek itu mendapat serangan brutal dari salah satu warga desa setempat.
Kegiatan BST pada akhir Tahun 2009, Mbah Tarom diserang tepat di bagian perut. Alat dipakai adalah sebuah obeng kecil dengan ujung besi panjang cukup tajam. “Ndak apa apa, ini lho ada bekasnya merah, rasane koyok dicokot semut angkrang,” kata Mbah Tarom menunjukkan bekas tusukan dibagian perut, usai kejadian. (Ndor/Kris)