
Sinergia | Ponorogo – Dua rumah warga di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, rusak berat setelah tertimpa material longsor pada Rabu (19/11/2024) sore. Tebing setinggi kurang lebih 10 meter ambrol setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama beberapa jam.
Rumah milik Marjuki hilang tertimbun tanah liat, sementara rumah milik Jemirin hancur di bagian kamar, ruang tamu, dan ruang keluarga. Tak hanya itu, tiga mobil—jenis Carry pick up, Panther, dan Honda Jazz—ikut tertimbun bersama empat sepeda motor.
Jemirin, pemilik rumah yang rusak, mengatakan bahwa suara gemuruh terdengar sesaat sebelum material dari atas tebing menerjang rumahnya.
“Saya di dapur, terus ada suara gemuruh. Saya keluar, di luar sudah kayak gini. Waktu kejadian semua di belakang, mau ke kandang. Kondisi rumah hancur semua. Kendaraan ada tiga yang tertimbun,” ujarnya.
Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan itu sejak siang. Beberapa warga sebenarnya sudah mengetahui adanya retakan di bagian atas tebing, namun belum sempat memasang plengsengan penahan tanah.
Kepala Dusun setempat, Nur Wijayanto, membenarkan bahwa retakan itu sempat terlihat sebelumnya dan sudah direncanakan untuk ditangani.
“Posisi tanah di rumah Pak Marjuki itu ada semacam retakan. Keluarga mau diplengseng, tapi belum sempat, kejadian tanah longsor duluan. Sampai sekarang rumah Pak Marjuki belum kelihatan. Belum 100 persen terlihat, padahal bangunan sudah jadi,” jelasnya.
Selain merusak dua rumah dan menimbun kendaraan, longsor juga menutup akses jalan penghubung antara Desa Wagir Kidul dan Desa Banaran. Akibatnya ratusan warga di delapan RT sementara waktu terisolasi.
Marjuki, yang rumahnya lenyap tertimbun tanah, mengaku sedang berada di kandang memerah sapi saat kejadian.
“Saat kejadian saya sedang kerja sama keluarga di kandang meras sapi, jam 4. Lalu dikabari tetangga kalau rumah kena longsor. Ya habis semua, tinggal baju di badan ini,” ungkapnya.
Hingga Kamis pagi, warga bersama perangkat desa masih melakukan evakuasi material longsor secara manual. Pemerintah daerah melalui BPBD dijadwalkan mendatangkan alat berat untuk membuka kembali akses desa yang tertutup serta mempercepat pencarian dan pembersihan material longsor.(Ega/Krs).