Kembali Terjadi ! Diduga Keracunan menu MBG, Puluhan Siswa di Mantingan Dilarikan ke Puskemas
- account_circle Kusnanto
- calendar_month Kamis, 4 Des 2025
- visibility 26
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, puluhan siswa dari berbagai sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, harus mendapat perawatan medis setelah mengalami gejala keracunan makanan, Kamis (4/12/2025). Mereka diketahui menyantap hidangan MBG sehari sebelumnya, Rabu (03/12/2025).
Hingga pukul 12.00 WIB, lebih dari 40 anak dari tingkat TK hingga SMA telah dibawa ke Puskesmas Mantingan dan Puskesmas Tambakboyo. Laporan terbaru menyebutkan angka tersebut masih terus bertambah. Mayoritas siswa mengeluh mual, pusing, lemas, dan diare.
Mereka sebelumnya menikmati menu MBG yang disuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bintang Mantingan yakni nasi putih, telur tahu balado, abon, oseng buncis, serta satu buah pisang. Sebagian siswa mengalami kondisi lebih berat sehingga harus dirujuk ke RSUD Mantingan dan salah satu rumah sakit di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
“Sekitar jam 12 malam dia mengeluh sakit perut lalu bolak-balik ke kamar mandi. Waktu menjelang subuh badannya panas dan diare lagi, jadi langsung kami bawa ke puskesmas. Sampai sini ternyata sudah banyak anak lain yang datang,” Ardiansyah, salah satu orang tua siswa.
Ia menambahkan bahwa kedua anaknya sempat bercerita telah menyantap menu MBG sehari sebelumnya. “Keduanya sekarang dipasang infus. Ada yang bilang penyebabnya dari menu MBG, bahkan ada yang menduga telurnya. Tapi pastinya kami belum tahu,” tambahnya.
Bahaudin, salah satu siswa yang kini dirawat di RSUD Mantingan, juga mengalami gejala serupa. “Rasanya lemas sekali. Dari pagi saya beberapa kali diare lalu akhirnya dibawa ayah ke rumah sakit,” ucapnya. Kondisinya kini berangsur stabil.
Pihak puskesmas bersama dinas terkait masih melakukan observasi, pendataan, serta pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sumber keracunan. Sampel makanan dan data siswa sedang dianalisis untuk menemukan penyebab pasti insiden keracunan massal ini. (Nan/Krs).
- Penulis: Kusnanto


