
Sinergia | Magetan — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi seiring meningkatnya intensitas hujan. Pemantauan difokuskan pada kawasan dataran tinggi yang memiliki potensi longsor lebih besar.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Cahaya Wijaya, menjelaskan bahwa wilayah rawan bencana kini terbagi menjadi dua zona besar, yaitu daerah bawah dengan risiko banjir, serta daerah atas yang memiliki potensi longsor dan angin kencang.
“Wilayah bawah jenis ancamannya banjir, namun saat ini masih aman. Titik yang paling rawan ada di wilayah atas yakni wilayah Kecamatan Poncol, Plaosan, hingga Panekan yang memiliki tingkat kemiringan tanah tinggi,” ujarnya Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan bahwa bencana angin kencang secara umum bisa terjadi di beberapa titik, termasuk kejadian terakhir di Mojopurno, yang menunjukkan bahwa potensi bencana tak hanya terfokus di lereng-lereng gunung saja. Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BPBD tengah menyiapkan posko khusus di wilayah Plaosan. Posko tersebut dirancang untuk menjangkau dua kecamatan rawan longsor di Plaosan dan Poncol.
BPBD juga telah memeriksa tujuh perangkat Early Warning System (EWS) yang tersebar di kawasan rawan bencana, meliputi pendeteksi longsor, gempa, hingga banjir. “Usia perangkat sudah di atas enam hingga tujuh tahun, tetapi hasil pengecekan kemarin semua masih berfungsi dengan baik,” kata Cahaya.
Langkah ini menjadi bagian dari laporan BPBD kepada pemerintah pusat melalui rapat virtual bersama Wakil Menteri Dalam Negeri terkait peningkatan eskalasi bencana hidrometeorologi tahun ini.
Tak hanya itu, BPBD Magetan juga melakukan mitigasi bencana pada sekitar lokasi wisata. Menyusul dua kejadian longsor di kawasan Telaga Sarangan, masing-masing dari sisi timur utara dan timur selatan, BPBD bergerak cepat melakukan pembatasan akses dan mitigasi lapangan.
“Lokasi longsor sudah kami amankan dan kami tutup sementara. Ada piket petugas di lapangan sesuai instruksi pimpinan. Jalur dialihkan dan volume kendaraan dibatasi karena tonase sangat berpengaruh,” jelas Cahaya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat lokal masih diperbolehkan melintas, namun dengan pengawasan dan pembatasan ketat demi menghindari potensi longsor susulan. Meski kejadian terbaru tidak terjadi saat hujan, indikasi gerakan tanah dinilai muncul dari kondisi tanah yang jenuh air dan terpicu oleh getaran kendaraan yang melintas.
Terkait kelanjutan penggunaan jalur Sarangan yang masih dapat dilalui mobil, BPBD menyerahkan keputusan final kepada tim teknis Dinas Pekerjaan Umum. “Kami menunggu analisa beban oleh teman-teman PU. Karena ini akses masyarakat, harapannya tetap bisa dilewati. Namun keselamatan tetap prioritas, jadi harus dihitung penguatannya,” ungkap Cahaya. Saat ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo juga telah menutup sebagian akses dan melakukan penanganan awal di titik longsor tersebut.(Kus/Krs).