PMK Kembali Muncul di Ngawi, 30 Sapi Terinfeksi dan Pedagang Mulai Waswas
- account_circle Sinergia Mediatama
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
- visibility 12
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Kemunculan kembali kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Ngawi menandai fase baru kewaspadaan sektor peternakan. Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) setempat mencatat 30 ekor sapi terindikasi terjangkit dan tersebar di 10 kecamatan serta 15 desa. Meski belum masuk kategori wabah besar, situasi ini cukup memicu tekanan di pasar hewan yang sebelumnya mulai pulih dari episode PMK sebelumnya.
Di Pasar Hewan Kandangan, geliat jual beli tampak tidak sepadat hari-hari normal. Warsono, salah satu pedagang, menyebut adanya perubahan perilaku pembeli sejak kabar kasus PMK kembali muncul.
“Begitu ada kabar PMK muncul lagi, jelas pedagang tidak tenang,” kata Warsono, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan bahwa sapi yang terjangkit otomatis jatuh harga, membuat pedagang menanggung risiko kerugian. Menurutnya, pembeli kini lebih selektif dan cenderung menahan diri.
“Orang tidak mau ambil risiko. Ada yang bilang khawatir sapi yang dibawa pulang menulari kandang mereka,” ujarnya.
Warsono menyebut kondisi saat ini mengingatkan pada situasi beberapa tahun lalu, ketika pedagang merugi dalam waktu singkat akibat merosotnya nilai jual ternak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Ngawi, Tony Wibowo, mengatakan bahwa laporan yang masuk tidak menunjukkan pola penyebaran terpusat.
“Ada 30 sapi yang mengarah ke PMK, sebarannya tidak menumpuk di satu wilayah. Tersebar di 10 kecamatan dan 15 desa,” kata Tony.

Ia menyebut bahwa 15 sapi sudah menunjukkan pemulihan, sementara sisanya masih dipantau oleh petugas lapangan. Meski demikian, Tony mengakui masih ada jeda pelaporan dari peternak yang membuat deteksi dini tidak optimal.
“Ada beberapa kasus yang baru dilaporkan setelah gejala muncul beberapa hari. Ini memperlambat penanganan,” ujarnya.
PMK dikenal cepat menular, terutama di lokasi dengan pergerakan ternak tinggi. Pasar hewan menjadi salah satu titik paling rentan. DPP Ngawi memperketat pemeriksaan hewan di area ini, termasuk penyemprotan disinfektan dan pemeriksaan fisik sebelum transaksi.
“Kalau ada satu hewan terinfeksi lolos pemeriksaan di pasar, penyebarannya bisa meluas. Itu yang kami cegah,” ujar Tony.
Selain di pasar kabupaten, pengawasan juga dilakukan di pasar hewan tingkat desa yang kerap luput dari pantauan.
Vaksinasi disebut tetap berjalan, namun partisipasi peternak menjadi tantangan tersendiri. “Masih ada yang enggan atau menunda vaksinasi. Ini menyulitkan pencegahan,” kata Tony.
Meski langkah-langkah pengawasan diperketat, peternak di tingkat bawah memegang peranan vital. Tony menekankan bahwa pelaporan cepat sangat menentukan keberhasilan pengendalian.
“Gejala awal seperti sariawan atau kesulitan berjalan harus segera dilaporkan. Kalau menunggu parah, potensi penularan makin besar,” ujarnya.
Ia juga menyinggung soal kebersihan kandang, yang menjadi salah satu faktor mempertahankan kondisi hewan.
Munculnya kembali PMK ini menjadi alarm dini bagi sektor perdagangan ternak di Ngawi. Mengingat periode awal tahun biasanya menjadi fase peningkatan transaksi, para pedagang waspada jika lonjakan kasus berlanjut dapat mengganggu stabilitas harga.(Nan/Krs).
- Penulis: Sinergia Mediatama
