Ironi di Ponorogo! Tak Ada Jembatan, Siswa Sidoharjo Digendong Seberangi Sungai Demi Sekolah
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 19
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Miris. Warga Dusun Karang Sengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, terpaksa menyeberangi Sungai Bentul setiap hari demi menjalani aktivitas. Bahkan, anak-anak sekolah harus digendong orang dewasa agar bisa sampai ke sekolah dengan selamat.
Sungai tersebut menjadi satu-satunya akses terdekat bagi warga. Saat debit air normal dan surut, warga masih bisa menyeberang dengan berjalan kaki. Namun ketika banjir datang, aktivitas warga lumpuh total.
Soiman (40), warga setempat, mengatakan kondisi itu sudah berlangsung lama. Dahulu sempat ada jembatan bambu, namun tidak bertahan lama setelah diterjang banjir. “Dulu ada jembatan bambu, tapi putus sejak 2006. Cuma bertahan beberapa bulan. Habis itu kena banjir dan tidak ada lagi sampai sekarang,” ujarnya.
Menurut Soiman, warga tidak memiliki pilihan lain. Memang ada jalan alternatif, namun jaraknya cukup jauh. “Ada jalan lain, tapi harus jalan kaki kurang lebih tiga kilometer. Lewat sini paling dekat. Kalau banjir ya tidak bisa menyeberang,” katanya.
Ia menyebut, ada lima siswa dari dusun tersebut yang setiap hari harus melewati sungai untuk bersekolah, terdiri dari dua anak TK serta siswa SD dan SMA. “Kalau banjir, anak-anak tidak bisa sekolah. Pernah banjir sampai dua kali besar. Airnya tinggi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Katijem (50), warga lainnya. Ia mengatakan akses sungai merupakan satu-satunya jalur bagi warga. “Tiap hari lewat sini, tidak ada jalan lain. Kalau banjir ya tidak masuk sekolah, tidak bisa nyeberang,” tuturnya.
Menurut Katijem, jika tidak ada orang dewasa yang membantu, anak-anak tidak bisa menyeberang. Bahkan orang dewasa pun tak berani jika air sudah tinggi. “Pernah banjir sepinggang, ya tidak berani. Biasanya sampai tiga hari tidak bisa nyeberang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jembatan bambu yang dulu dibangun warga juga sudah dua kali rusak akibat banjir.
Sementara itu, Kepala Desa Sidoharjo, Sarmin, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut, di Dusun Karang Sengon terdapat sejumlah rumah yang memang menggantungkan akses pada jalur tersebut.
“Dulu memang ada jembatan bambu. Warga tiap hari lewat situ. Kalau banjir ya tidak bisa lewat,” katanya.
Namun, untuk pembangunan jembatan permanen, pihak desa mengaku masih terkendala anggaran. “Kalau mau membuatkan jembatan, anggaran desa belum cukup,” pungkasnya.
Warga berharap adanya perhatian dari pemerintah agar akses jembatan permanen dapat segera dibangun, sehingga aktivitas dan pendidikan anak-anak tidak lagi terhambat setiap kali banjir melanda.(ega).
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Kris


