Jatim Targetkan 2,43 Juta Hektare Tanam Padi 2026, Khofifah Buka Peluang Ekspor Beras
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan luas tanam padi mencapai 2,43 juta hektare pada 2026 sebagai upaya menjaga produksi dan ketersediaan beras di tengah ancaman kekeringan akibat El Nino Godzila. Target ini diiringi percepatan tanam dan dukungan sarana produksi untuk memastikan hasil panen tetap optimal.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut, produksi beras di Jatim diperkirakan mengalami surplus hingga tahun depan. Kondisi tersebut membuka peluang ekspor, salah satunya ke Arab Saudi.
“Kalau surplusnya cukup sampai tahun depan, tantangan kita bagaimana bisa ekspor beras. Saya sudah komunikasi dengan Dubes Arab Saudi untuk melihat kesesuaian kualitas dan potensi pengiriman,” ujar Khofifah saat menghadiri panen dan percepatan tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat (8/5/2026).
Ia juga menyoroti harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani yang mencapai Rp7.500 per kilogram di wilayah Desa Gading. Menurutnya, capaian tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani di Madiun dan Jawa Timur secara umum.
Dalam mendukung target produksi, Pemprov Jatim mendorong modernisasi pertanian melalui penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti transplanter, drone, dan combine harvester. Teknologi ini dinilai mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
“Modernisasi alsintan ini penting dan cukup ramah bagi anak muda. Harapannya mereka tidak semua ke kota, tapi ikut memperkuat sektor pertanian,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Heru Suseno mengatakan target luas tanam 2,43 juta hektare pada 2026 relatif sama dengan tahun sebelumnya, namun diharapkan realisasinya meningkat.
“Target 2026 itu 2,43 juta hektare tanam. Harapannya ada peningkatan dibanding capaian sebelumnya,” ujar Heru.
Untuk menjaga target tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi, termasuk penyaluran sekitar 2.200 unit irigasi perpompaan (irpom) guna mengantisipasi penurunan debit air saat musim kemarau.
Selain itu, bantuan alsintan juga terus digelontorkan untuk mendukung proses budidaya dari pengolahan lahan hingga panen. Percepatan masa tanam menjadi fokus utama agar siklus produksi tetap terjaga di tengah potensi cuaca ekstrem.
Heru menegaskan, instruksi percepatan tanam dari gubernur harus diikuti seluruh kepala daerah di Jawa Timur. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan target produksi gabah dan beras tetap tercapai.
Dengan kombinasi percepatan tanam, dukungan irigasi, serta modernisasi pertanian, Pemprov Jatim optimistis mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus mendorong kedaulatan pangan berkelanjutan di tingkat nasional. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





