Dua Desa di Ponorogo Ditetapkan Zona Merah Longsor, Belasan Jiwa Terancam
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 41
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo menetapkan dua desa sebagai zona merah rawan tanah longsor. Dua wilayah tersebut yakni Desa Banaran, Kecamatan Pulung, dan Desa Talun, Kecamatan Ngebel.
Penetapan status tersebut dilakukan setelah adanya identifikasi dari tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menilai kondisi geografis kedua desa berada di kawasan rawan longsor di lereng Pegunungan Wilis.
Sekretaris BPBD Ponorogo, Ismoyo, mengatakan karakteristik longsor di dua desa tersebut berbeda. Di Desa Banaran, material longsoran didominasi tanah dan lumpur akibat kondisi tanah yang masih aktif bergerak dan dipenuhi retakan.
“Yang di Banaran itu kondisi tanahnya masih aktif bergerak, bahkan sampai sekarang masih ada retakan. Kalau longsor terjadi, material yang turun berupa lumpur,” ujarnya.
Menurutnya, minimnya pepohonan di kawasan perbukitan membuat tanah semakin mudah tergerus air hujan. Akar pohon yang seharusnya menahan tanah kini sudah banyak berkurang sehingga meningkatkan risiko longsor saat hujan deras turun dalam durasi lama.
BPBD mencatat sedikitnya tiga rumah warga di Desa Banaran berada dalam ancaman longsor. Bahkan akses jalan menuju rumah warga tersebut sudah terputus akibat longsor yang terjadi sebelumnya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Desa Talun, Kecamatan Ngebel. Di wilayah tersebut, potensi longsor didominasi material batuan besar yang dinilai lebih berbahaya.
Ismoyo menjelaskan, struktur tanah di Desa Talun telah banyak terkikis akibat longsor yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Saat ini, bagian lereng didominasi batuan yang sewaktu-waktu dapat runtuh apabila hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Karakteristik di Talun itu batuan, sehingga lebih berbahaya kalau longsor. Saat ini batuan masih tertahan oleh pohon salak,” katanya.
BPBD mencatat sekitar empat rumah dengan belasan jiwa di Desa Talun berada di kawasan rawan longsor. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras disertai suara gemuruh dari arah perbukitan.
Selain itu, masyarakat diimbau segera menutup retakan tanah di area bukit agar air hujan tidak masuk dan memperparah pergerakan tanah. BPBD juga meminta warga segera mengungsi apabila muncul tanda-tanda longsor demi menghindari korban jiwa. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





