Harga Plastik Melonjak, Perajin Besek Bambu di Magetan Kebanjiran Pesanan Jelang Idul Adha
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 62
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kenaikan harga plastik yang dipicu dampak konflik di Timur Tengah membawa efek tak terduga bagi perajin besek bambu di Kabupaten Magetan. Menjelang Idul Adha, permintaan wadah tradisional dari anyaman bambu tersebut meningkat tajam, bahkan mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan hari normal.
Lonjakan pesanan paling terasa di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi besek bambu. Dalam beberapa pekan terakhir, para perajin setempat menerima pesanan dalam jumlah besar dari berbagai daerah, terutama untuk kebutuhan distribusi daging kurban.
Aktivitas produksi pun meningkat signifikan. Hampir di setiap rumah warga, suara anyaman bambu terdengar sepanjang hari. Para perajin berupaya mengejar target produksi agar pesanan dapat terpenuhi sebelum hari raya tiba.
Salah satu perajin, Endah Desi, mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan mulai dirasakan sejak dua pekan terakhir. Menurutnya, selain faktor kenaikan harga plastik, karakteristik besek yang lebih ramah lingkungan dan mampu menjaga kualitas daging turut menjadi alasan utama meningkatnya minat masyarakat.

“Besek memiliki rongga udara dari anyaman bambu, sehingga daging tidak mudah lembap dan bisa lebih awet dibandingkan jika menggunakan plastik,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, ukuran besek yang paling diminati saat ini adalah 14 x 15 sentimeter. Dalam satu ikat berisi 30 pasang, harga jual kini mencapai sekitar Rp40.000, naik dari kisaran Rp30.000 pada tahun sebelumnya. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh sulitnya memperoleh bahan baku bambu serta meningkatnya waktu produksi akibat tingginya permintaan.
Untuk memenuhi lonjakan pesanan, para perajin terpaksa menambah jam kerja. Bahkan, tidak sedikit yang melibatkan anggota keluarga dalam proses produksi agar pesanan dapat diselesaikan tepat waktu.
Momentum Idul Adha menjadi berkah tersendiri bagi para perajin besek bambu di wilayah ini. Selain meningkatkan pendapatan, penggunaan besek juga dinilai sebagai langkah positif dalam mengurangi sampah plastik saat pembagian daging kurban.
Saat ini, pasar besek bambu Magetan tidak hanya terbatas di wilayah lokal. Permintaan juga datang dari berbagai daerah di kawasan Madiun Raya hingga Blora, Jawa Tengah, yang semakin memperluas jangkauan distribusi produk tradisional tersebut.
“Pesanan dari luar daerah juga terus berdatangan, termasuk dari Jawa Tengah. Semoga ini menjadi rezeki yang membawa berkah,” tambah Endah. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





