Hama Tikus dan Wereng Coklat Dominasi Serangan di Lahan Padi Magetan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 48
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Serangan hama tikus dan wereng coklat masih menjadi ancaman utama bagi pertanaman padi di Kabupaten Magetan pada musim tanam tahun ini. Meski luas serangan relatif terkendali dibandingkan total luas tanam padi yang mencapai 62.767 hektare, petani diminta tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Magetan, Nur Hadi, mengatakan serangan tikus saat ini banyak ditemukan pada tanaman padi berumur 40 hingga 60 hari setelah tanam. Wilayah yang paling terdampak berada di Kecamatan Barat dan Kartoharjo yang selama ini dikenal sebagai daerah endemis hama tikus.
Berdasarkan laporan petugas POPT di lapangan, luas serangan tikus yang telah teridentifikasi mencapai sekitar 2,9 hektare. Sementara itu, lahan yang masuk kategori waspada dan berpotensi mengalami serangan tercatat seluas 4,2 hektare.
“Serangan tikus paling banyak terjadi pada tanaman padi usia 40 sampai 60 hari setelah tanam. Lokasi yang cukup dominan berada di Kecamatan Barat dan Kartoharjo,” ujar Nur Hadi, Kamis (11/6/2026).
Untuk menekan perkembangan populasi tikus, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Magetan telah melaksanakan gerakan pengendalian (Gerdal) secara terpadu di sejumlah wilayah terdampak, terutama di Kecamatan Barat dan Kartoharjo.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyediakan bantuan umpan dan bahan pengendalian yang dapat dimanfaatkan kelompok tani. Selain dukungan dari pemerintah, petani juga melakukan berbagai upaya swadaya seperti penggunaan belerang sebagai bahan penolak tikus, pemanfaatan pestisida nabati berbahan buah bintaro, hingga kegiatan perburuan tikus secara massal atau keropyokan.
Menurut Nur Hadi, kombinasi berbagai metode pengendalian tersebut dinilai penting agar populasi tikus dapat ditekan tanpa bergantung pada satu cara saja.
Selain tikus, ancaman lain yang kini mulai meningkat adalah serangan wereng coklat. Hama ini umumnya menyerang tanaman padi yang telah memasuki fase umur 80 hingga 90 hari setelah tanam.
Serangan wereng coklat dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Karas, Parang, dan Bendo. Petugas bersama kelompok tani telah melakukan langkah pengendalian sejak dini untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.
Pemerintah daerah melalui DTPHP Magetan memberikan dukungan berupa pestisida dari stok dinas yang kemudian dipadukan dengan upaya swadaya petani. Sejumlah kelompok tani juga mulai memanfaatkan pestisida nabati berbahan alami yang dinilai lebih ramah lingkungan dan aman bagi ekosistem pertanian.
“Untuk wereng coklat, kami sudah melakukan gerakan pengendalian bersama kelompok tani dengan dukungan pestisida dari dinas dan pestisida nabati yang dibuat secara mandiri oleh petani,” jelasnya.
Meski saat ini luas serangan masih tergolong kecil dibandingkan total luas areal tanam padi di Magetan, petugas POPT terus melakukan pemantauan intensif di lapangan. Langkah tersebut dilakukan agar serangan hama dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi ledakan populasi yang berpotensi menurunkan produktivitas panen.
DTPHP Magetan juga mengimbau petani untuk rutin memantau kondisi tanaman, melaporkan gejala serangan hama sejak dini, serta menerapkan pengendalian terpadu agar produksi padi tetap terjaga hingga masa panen tiba. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





