Harga Sembako Naik, Warga Kabupaten Madiun Rela Antre Demi Paket Murah Bersubsidi
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Ratusan warga memadati pasar murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Madiun di Desa Dempelan, Kecamatan Madiun, Rabu (22/7/2026). Mereka rela mengantre selama berjam-jam untuk mendapatkan paket sembako bersubsidi di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, terutama beras dan telur ayam.
Pasar murah tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Bakti Harmoni Madiun Bersahaja (Bahana Bersahaja) yang digelar selama dua hari. Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun membuka dua titik layanan agar lebih banyak warga dapat mengakses sembako dengan harga di bawah pasaran.
Kenaikan harga sejumlah komoditas pokok belakangan ini menjadi alasan utama tingginya antusiasme masyarakat. Pemerintah Kabupaten Madiun pun memberikan subsidi langsung berupa potongan harga pada setiap komoditas yang dijual.
Binti, salah seorang warga yang mengantre sejak pagi, mengaku sengaja datang untuk membeli beras, minyak goreng, dan telur karena selisih harganya cukup jauh dibanding di pasar.
“Selisihnya hampir 20 persen. Sekarang harga beras, minyak, dan telur sedang naik. Telur di luar bisa Rp 25 ribu per kilogram, di sini hanya Rp 19.500. Sangat membantu kami sebagai masyarakat kecil,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Mariyam. Ia mengaku memanfaatkan kedatangannya di Bahana Bersahaja tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga memeriksakan kesehatan.

“Tadi saya periksa kesehatan dulu, lalu belanja beras, telur, minyak goreng, dan bawang putih. Saya rela antre karena harganya jauh lebih murah daripada di pasar,” katanya.
Kepala Bidang Perdagangan Disperdagkop-UM Kabupaten Madiun, Budi Santoso, mengatakan pihaknya menyiapkan stok dalam jumlah besar selama pelaksanaan pasar murah.
“Untuk kegiatan ini kami menyediakan beras sebanyak 3 ton, minyak goreng 2.000 liter, gula pasir 2.000 kilogram, telur ayam 300 kilogram, dan bawang putih 300 kilogram,” ujar Budi.
Menurutnya, subsidi diberikan dalam bentuk pengurangan harga sehingga masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Beras premium yang di pasaran dijual sekitar Rp 15.000 per kilogram, di pasar murah hanya Rp 11.900 per kilogram. Minyak goreng turun dari sekitar Rp 22.000 menjadi Rp 18.000 per liter. Gula pasir dijual Rp 14.500 per kilogram dari harga pasar Rp 17.500. Telur ayam dijual Rp 19.500 per kilogram dari harga pasar sekitar Rp 24.000 hingga Rp 25.000. Sementara bawang putih dijual Rp 29.000 per kilogram, lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai Rp 33.000.
Budi menjelaskan, kenaikan harga telur ayam menjadi yang paling terasa dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi meningkatnya permintaan setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan usai masa libur sekolah.
“Kalau yang terlihat naik sekarang memang telur. Karena program MBG sudah berjalan lagi sehingga permintaan meningkat dibanding saat masa liburan,” katanya.
Untuk pemerataan, setiap warga hanya diperbolehkan membeli satu paket sembako dengan menunjukkan satu KTP. Satu paket berisi beras 5 kilogram, minyak goreng 2 liter, gula pasir 2 kilogram, telur ayam 1 kilogram, bawang putih 500 gram, dan cabai rawit 100 gram.
Budi menambahkan, tingginya antusiasme warga menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap sembako bersubsidi masih sangat tinggi. Bahkan, pada hari sebelumnya sebagian stok sempat habis lebih cepat karena banyaknya pembeli yang datang sejak pagi. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez




