Ruwatan Massal di RRI Madiun, Puluhan Peserta Ikuti Tradisi Memohon Keselamatan
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 93
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Puluhan warga dari berbagai daerah mengikuti ruwatan massal yang digelar Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Madiun dalam rangkaian Gelar Budaya, Minggu (28/6/2026). Tradisi yang masih mendapat tempat di hati masyarakat ini menjadi sarana untuk memohon keselamatan sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa.
Sebanyak 42 peserta atau sukerta mengikuti prosesi ruwatan. Mereka tidak hanya berasal dari Madiun, tetapi juga datang dari sejumlah daerah di Jawa Timur hingga Bandung.
Sebelum prosesi dimulai, panitia menyiapkan sedikitnya 57 jenis sesaji yang terdiri atas hasil bumi, perlengkapan dapur, air dari tujuh sumber, serta berbagai perlengkapan adat lainnya.
Rangkaian acara diawali dengan kirab sukerta, dilanjutkan sungkeman kepada orang tua masing-masing peserta. Prosesi kemudian diteruskan dengan pager-pager, pementasan wayang kulit berlakon *Murwakala*, tigas rikma oleh dalang Ki Subandi Marsudi Carito, siraman menggunakan air dari tujuh sumber yang dipimpin Kepala RRI Madiun, hingga murak sesaji dan kupat luwar.
Kepala RRI Madiun, Kukuh Setyo Budi Akhrianto, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat menjadi alasan pihaknya kembali menggelar ruwatan massal. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pelayanan kepada masyarakat yang ingin melaksanakan ruwatan dengan biaya yang lebih terjangkau.
“Ruwatan ini masih mendapat perhatian masyarakat dan memang masih dibutuhkan. Karena jika menggelar ruwatan sendiri biayanya cukup besar, kami memfasilitasi melalui ruwatan massal. Harapannya, peserta dapat menjalani kehidupan ke depan dengan semangat dan energi yang lebih positif,” ujarnya.
Sementara itu, dalang ruwatan Ki Subandi Marsudi Carito menilai tradisi ruwatan perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa. Menurutnya, ruwatan bukan sekadar ritual adat, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual.

“Makna ruwatan adalah membersihkan hal-hal yang dianggap kurang baik yang melekat pada diri sukerta. Harapannya, setelah itu perjalanan hidup menjadi lebih baik dan lebih terang,” katanya.
Ki Subandi juga mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai keyakinan masing-masing. Ia berharap setiap peserta terus memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan, ketenteraman, serta kebahagiaan lahir dan batin. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





