BPBD Magetan Tanamkan Budaya Sadar Bencana Sejak Dini, Mewaspadai Dampak Cuaca Ekstrem
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 71
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Tingginya angka kejadian bencana di Kabupaten Magetan mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) semakin masif memberikan edukasi mitigasi kepada masyarakat, termasuk kepada pelajar sejak usia dini. Momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru 2026/2027 dimanfaatkan BPBD untuk menanamkan budaya sadar bencana kepada siswa SD, SMP, SMA/SMK di Magetan, salah satunya di SD Negeri Truneng, Kecamatan Sukomoro. Kamis (16/7/2026).
Langkah tersebut dinilai penting mengingat berdasarkan Register Bencana Alam Kabupaten Magetan Tahun 2026, hingga pertengahan tahun telah tercatat 249 kejadian bencana dan penanganan. Dari jumlah tersebut, cuaca ekstrem menjadi kejadian terbanyak dengan 109 kasus, disusul tanah longsor sebanyak 67 kejadian dan banjir sebanyak 41 kejadian. Selain itu terdapat 25 evakuasi penyelamatan hewan, 3 evakuasi pencarian dan pertolongan, 3 kejadian tidak terduga, serta 1 kejadian kebakaran.
Data BPBD juga menunjukkan Kecamatan Magetan menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 63 peristiwa, yang didominasi cuaca ekstrem dan banjir. Sementara itu, Kecamatan Poncol menjadi daerah paling rawan tanah longsor dengan 44 kejadian, disusul Plaosan dan Ngariboyo yang juga memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi.
Berangkat dari kondisi tersebut, BPBD Magetan terus memperkuat upaya mitigasi melalui edukasi kepada pelajar. Dalam kegiatan MPLS di SD Negeri Truneng, siswa dikenalkan berbagai jenis bencana, penyebabnya, hingga langkah penyelamatan diri saat kondisi darurat.
Staf Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Magetan, Ahmad Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangun kesiapsiagaan sejak dini agar anak-anak memahami risiko bencana yang ada di lingkungan sekitarnya.
“Kami mengenalkan jenis-jenis bencana, cara mengantisipasinya, hingga bagaimana adik-adik tetap selamat ketika terjadi bencana di sekolah,” ujar Ahmad Fauzi.
Selain pengetahuan mengenai mitigasi, BPBD juga menanamkan perilaku yang dapat mencegah terjadinya bencana.

“Tujuannya agar anak-anak menjadi pribadi yang siaga, mengenali penyebab bencana, serta tidak melakukan tindakan yang bisa memicu bencana, seperti membuang sampah sembarangan atau bermain api,” tambahnya.
Menurut Fauzi, penyampaian materi kepada siswa sekolah dasar harus dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif agar materi lebih mudah dipahami.
“Kalau mengajar anak-anak bukan soal sulit atau tidak, tetapi bagaimana kita harus lebih aktif, lebih menyenangkan, dan mengajak mereka terus berinteraksi,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala SD Negeri Truneng, Heru Nurkhayatin Setiati, menuturkan pihak sekolah sengaja menghadirkan BPBD sebagai bagian dari rangkaian MPLS agar siswa baru mengenal pentingnya kesiapsiagaan bencana sejak hari pertama masuk sekolah.
“Kami ingin menanamkan kepada anak-anak bahwa BPBD merupakan lembaga pemerintah yang bertugas menangani bencana, mulai dari pencegahan, tanggap darurat hingga rehabilitasi. Harapannya mereka mengenal fungsi BPBD sejak dini,” katanya.
Ia mengungkapkan antusiasme para siswa selama mengikuti kegiatan sangat tinggi. Materi yang disampaikan dinilai mudah dipahami karena dikemas secara komunikatif dan disertai praktik sederhana.
“Alhamdulillah anak-anak sangat semangat mengikuti kegiatan ini. Mereka mendapat pengalaman baru dan mulai memahami bagaimana menghadapi kebakaran maupun bencana lainnya,” ujarnya.
Heru menambahkan, materi kebencanaan sengaja dimasukkan dalam agenda MPLS agar siswa memiliki bekal mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Melalui edukasi sejak usia dini tersebut, BPBD Magetan berharap budaya sadar bencana dapat tumbuh di tengah masyarakat. Dengan meningkatnya pemahaman pelajar mengenai mitigasi, diharapkan risiko korban maupun dampak bencana dapat ditekan, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi daerah rawan seperti Magetan, Poncol, Plaosan, dan Ngariboyo. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




