Berita Terkini
Trending Tags

Lahan Kedelai di Magetan Terus Menyusut, Pedagang Kini Bergantung pada Pasokan Impor

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 171
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Pedagang Pasar Sayur Magetan kini lebih mengandalkan kedelai impor. Foto : Istimewa

Sinergia | Magetan — Luas lahan pertanian kedelai di Kabupaten Magetan terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut berdampak langsung pada menurunnya produksi kedelai lokal hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya, para pedagang kini lebih banyak mengandalkan pasokan kedelai impor untuk memenuhi permintaan konsumen.

Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Magetan mencatat, luas tanam kedelai pada 2025 hanya tersisa sekitar 214 hektare. Lahan tersebut tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Kecamatan Barat dan Kartoharjo.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Magetan, Romandhon, mengatakan penurunan luas tanam palawija seperti kedelai dan kacang-kacangan mulai terjadi sejak 2022. Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah tidak adanya lagi dukungan program maupun anggaran dari APBD kabupaten dan provinsi untuk pengembangan tanaman palawija.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah lebih memfokuskan kebijakan pertanian pada peningkatan produksi padi guna mendukung program swasembada pangan nasional. Fokus tersebut diwujudkan melalui peningkatan indeks pertanaman lewat program IP 400 atau pola tanam empat kali dalam setahun.

“Data terakhir tahun 2025 kemarin lahannya tinggal 214 hektare, itu tersebar di lima kecamatan di antaranya Barat, Kartoharjo, dan sekitarnya. Program untuk palawija seperti kedelai sudah tidak masuk lagi dalam kegiatan APBD sejak 2022 karena Magetan fokus pada percepatan swasembada pangan melalui tanaman padi,” ujarnya.

Selain minim dukungan program, rendahnya harga jual kedelai di tingkat petani juga menjadi faktor yang membuat petani enggan menanam kedelai. Romandhon menyebut produktivitas kedelai di Magetan rata-rata hanya mencapai 1,6 ton hingga 2,6 ton per hektare.

Di sisi lain, harga jual kedelai pada 2022 hanya berada di kisaran Rp7.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, petani dinilai sulit memperoleh keuntungan sehingga banyak yang memilih beralih menanam padi yang dianggap lebih menjanjikan.

“Kalau dibandingkan padi, tentu petani lebih memilih menanam padi karena hasilnya lebih menjanjikan. Apalagi harga gabah saat ini cukup bagus,” katanya.

Meski demikian, sejumlah petani di beberapa wilayah Magetan masih menanam tanaman palawija lain seperti kacang tanah dan kacang hijau. Namun luas tanamnya relatif terbatas dan umumnya hanya dilakukan sekali dalam setahun, yakni pada musim tanam Juni hingga Agustus.

Menurunnya produksi kedelai lokal juga dirasakan para pedagang di pasar tradisional. Salah satu pedagang kedelai di Pasar Sayur Magetan, Galih, mengaku stok kedelai lokal di lapaknya telah kosong selama beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, kedelai lokal kini hanya tersedia dalam jumlah terbatas dan biasanya muncul sekali dalam setahun saat musim panen tiba. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, para pedagang kini mengandalkan kedelai impor yang pasokannya lebih stabil.

“Harga kedelai impor sekarang Rp11.000 per kilogram, sebulan lalu sekitar Rp10.200. Kalau kedelai lokal biasanya lebih mahal dan hanya ada setahun sekali,” ujarnya.

Galih menambahkan, kedelai impor umumnya digunakan sebagai bahan baku tahu dan tempe karena kualitas dan ketersediaannya lebih konsisten. Sementara kedelai lokal lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan pembuatan tauge atau kecambah.

Menyusutnya lahan kedelai di Magetan menjadi gambaran perubahan pola pertanian di daerah yang kini lebih berorientasi pada produksi padi. Di sisi lain, ketergantungan terhadap kedelai impor juga semakin meningkat seiring berkurangnya produksi lokal dari petani. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemusnahan 5 Juta Batang Rokok Ilegal di Ngawi, Potensi Rugikan Negara hingga Rp. 4,8 Miliar

    Pemusnahan 5 Juta Batang Rokok Ilegal di Ngawi, Potensi Rugikan Negara hingga Rp. 4,8 Miliar

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ngawi – Upaya penegakan hukum terhadap peredaran rokok dan minuman ilegal terus dilakukan oleh Kantor Bea dan Cukai Madiun bersama lintas instansi. Rabu (18/06/2025), sebanyak 5 juta batang rokok ilegal dimusnahkan dalam dua tahap, masing-masing di halaman Pendopo Wedya Graha dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Selopuro, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi. Kepala Kantor […]

    Bagikan
  • THM di Kota Madiun Tutup Total Selama Bulan Ramadhan

    THM di Kota Madiun Tutup Total Selama Bulan Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Pemerintah Kota Madiun menutup Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Madiun selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah. Penutupan dimulai 18 Februari hingga 21 Maret 2026. Kepala Satpol PP dan Damkar Kota Madiun, Agus Purwowidagdo mengatakan bahwa pihaknya telah memanggil 22 pengelola THM untuk diberikan sosialisasi mengenai aturan tersebut. Satpol PP akan […]

    Bagikan
  • Angka Stunting di Magetan Turun, Tapi Masih Tinggi

    Angka Stunting di Magetan Turun, Tapi Masih Tinggi

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Magetan masih menghadapi tantangan besar. Data Dinas Kesehatan mencatat, hingga 2025 terdapat 2.564 balita stunting atau sekitar 8,8 persen dari total balita. Angka ini memang sedikit menurun dibanding 2024 yang mencapai 2.588 anak (10,4 persen), namun tetap mengindikasikan masalah serius. Kecamatan Panekan menjadi wilayah dengan […]

    Bagikan
  • Wagub Jatim Beri Atensi TPA Kaliabu Agar Jadi Prioritas Penanganan Era Pemerintahan Harmonis

    Wagub Jatim Beri Atensi TPA Kaliabu Agar Jadi Prioritas Penanganan Era Pemerintahan Harmonis

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Kaliabu, Kecamatan Mejayan menyita perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak berharap pada Pemkab Madiun yang dinahkodai Bupati Hari Wuryanto dan Wakil Bupati Madiun Purnomo Hadi mampu mengatasi permasalahan gunung sampah di TPA Kaliabu yang kapasitasnya hampir overload.  Hal itu […]

    Bagikan
  • Atasi PMK, Pemkab Ponorogo Alokasikan 3.500 Dosis Vaksin

    Atasi PMK, Pemkab Ponorogo Alokasikan 3.500 Dosis Vaksin

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ponorogo – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo mendapatkan alokasi 3.500 dosis vaksin dari pemerintah pusat untuk menangani wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, Supriyanto, mengatakan vaksin ini diprioritaskan untuk ternak sehat di zona hijau, seperti Kecamatan Sooko, Ngebel, Balong, Sukorejo, Pulung, dan Slahung. “Intinya, ternak […]

    Bagikan
  • Menyusuri Jalur Moksa Prabu Brawijaya V di Gunung Lawu, Rute Klasik yang Kian Diminati Saat Bulan Suro

    Menyusuri Jalur Moksa Prabu Brawijaya V di Gunung Lawu, Rute Klasik yang Kian Diminati Saat Bulan Suro

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Menjelang datangnya bulan Muharram atau yang lebih dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro, suasana sakral di kawasan Gunung Lawu mulai terasa semakin kuat. Gunung yang menjulang setinggi 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah itu tidak hanya menjadi tujuan favorit para pendaki, tetapi juga […]

    Bagikan
expand_less